Manusia Mahal

Ketukan itu semakin bising.
Mengeras, menggelegar.
Tapi bisu masih menyeruak di ruang ini.
Kosong.

Ku buka perlahan, ku lihat ke dalam.
Masih kosong.

Tak bisa ku buka sendiri, keras.

Ketukan itu semakin terdengar, kali ini merdu.
Riang, dan jenaka.
Siapa?
Sedetikpun dari jatah nafasku, belum pernah aku mendengarnya.
Ku panjatkan pendengaranku.
Ada seseorang.
Manusia.

Aku bermain di lingkaranku, aku melompat di tiang penghujung jalanku.
Aku tidak tertarik dengan permainan manusia itu.
Tidak lucu!
Duniamu tidak sama denganku,
bahkan bertentangan.

Aku, aku adalah manusia mahal.
Karena aku tidak mudah membuka ruang itu, ruang itu kini masih kosong.
Tidak ada yang mampu membelinya.
Mahal.
Dan akupun tidak berniat mengobralnya.

Aku tetap tidak mau menjualnya. 
Ruang itu terlalu suci, terlalu tinggi untuk dijatuhkan.
Dan belum ku temui manusia yang memiliki kunci itu.

Aku, si periang, murah bicara, dan terkadang terlalu murah.
Aku, si pelompat, yang tidak bisa diam. Pernah seorang jahat berkata bahwa aku curut.
Anak tikus kecil yang berlari begitu cepat.
Tapi aku tak pelak hinaan. Aku bergerak dengan tubuh mungilku.
Aku, si pemikir. Tapi tak sedikitpun ku pikirkan tentang ruang kecilku.

Tidak ada yang suka denganku.
Aku menyebalkan.
Sok tahu.
Sok ngatur.
Sok pintar.
Tapi aku tahu dimana aku berpijak, dan bagaimana harus bersikap.
Aku acuh, telingaku tuli untuk ocehan tak berkasta.

Aku ini makhluk Tuhan. Manusia.
Manusia mahal.
Terima kasihku untuk-Nya yang tak terkira.
Aku sendiri dengan duniaku.

Hingga malam itu, malam itu adalah purnama.
Terang, bercahaya.

Namun, cahayanya tidak mampu menerangi kekosongan ruangku.
Cahaya hanya merasuki lubang kecil saja.
Aku tidak suka.
Bukan, bukan cahaya itu yang ku tunggu.

Sedikit demi sedikit cahaya itu menerobos, masuk.
Lubang kecil itu, yah dia menerobos lubang kecil itu untuk menerangi ruang kecilku.
Aku tak bergeming.
Aku ini manusia mahal.

Tak sudi,
aku sungguh tak sudi membiarkan cahaya itu bertindak.
Tolong hentikan.

Bulan berganti, purnama itu datang lagi.
Cahayanya masih menerangi lubak kecil itu.
Ku lihat perlahan.
Dia berusaha, dengan caranya.

Aku menatapnya perlahan. Aku melihat kesungguhannya.
Mulai aku nikmati cahaya di lubang kecil ruanganku.
Mulai ku rasakan nafas purnama mengalir, aku menikmati.
Lubang kecil itu kian membesar.

Dia disana, cahaya itu disana.
Menerangi ruang kecilku.
Kini ruang kecilku bersinar.
Ada dia, ada cahaya.

Lalu aku bimbang.
Lubangku kian besar dan bersinar. 
Ruang kecilku berisi, bertenaga, aku bukan anak kecil curut lagi.
Kini ada manusia disana.
Manusia baik yang tidak melihat kecurutan-ku.
Manusia baik yang melihat bahwa aku ini manusia, manusia mahal.

Aku nikmati waktuku bersamanya, bersama cahaya di ruang kecilku.

Hingga ku sadari cahayaku kian meredup.
Meredup...
Aku harus bagaimana?

Aku panik, aku takut.
Aku tidak ingin ini, dimana dia?

Apa ini salahku?
Apa dia pergi karena aku?

Aku ini kenapa?
kali ini aku bertanya pada ruang kecilku, bukannya kau memang kosong.
Biarkan saja dia pergi. 
Bukan salahku.
Bukan salahnya.

Aku lumpuh.
Ku sadari betapa gelapnya ruanganku kini.
Tak ada lagi dirinya.
Tak ada lagi cahaya yang menerangi ruanganku, kini kosong seperti sedia kala.
Aku lumpuh, kau dimana?

Belakang aku menyadari bahwa dia adalah manusia mahal. 
Sepertiku.

Meski kami berbeda, tapi nilai kami sama.
Mahal.

Aku tahu, dia itu es.
Dingin, tapi kebekuannya itu cahaya bagi ruanganku.
Dan di dingin sinarnya aku seketika membeku, terkristal bagai garam.
Dingin tapi ruang kecilku menjadi hangat.
Aku rindu manusia mahal yang pernah singgah di ruang kecilku.

Ku tutup perlahan.
Ku katakan "Selamat tinggal ruang kecilku"
Ku balikan badanku.
Ku lihat ada cahaya disana.
Aku bingung, kenapa engkau sinari kembali ruang kecilku?

Sungguh tak berdaya diriku ini.

Perlahan aku mulai menyadari.
Kami ini manusia mahal. Aku, dirinya.
Tidak mudah untuk menyatukan dua orang mahal menjadi satu.
Ruang kecilku yang kosong, dan cahaya purnama.

Bukan perkara murah untuk diperjual belikan.
Ada ujian, ada tantangan, dan ada kematangan.
Dia itu manusia mahal.
Aku pun begitu.
Kami manusia mahal.
Dan hidup mahal itu sulit, hanya orang-orang mahal yang mampu membelinya.

Kelak kami bersatu.
Ruang kecilku yang kosong akan selamanya terang oleh cahayanya.

Tuhan mencatat, aku memohon, dan dia ada.





Depok, 24-Oktober-2012, 
23.02 WIB
Jangan pernah lelah untuk terus menyinari. Terima kasih.
*F*W*

Comments

Popular Posts