bercerita dengan hati
Aku ini bukan malam, yang kemudian di gantikan oleh cahaya siang. Aku juga bukan petang yang keindahannya begitu mempesona. Apalagi fajar yang nyata dengan sinar pekatnya.
Ingin rasanya aku berhenti. Ingin rasanya aku menyerah. Tapi bukan saat ini. Bukan sekarang, bukan saat aku masih memiliki seribu satu keyakinan. Bukan saat aku masih menyimpan ratusan kalimat pertanyaan. Bukan dengan keabu-abuan aku menghentikan jari-jemariku.
Aku tidak akan berhenti. Hingga suatu ketika aku benar-benar mengatakannya padamu. Aku berhenti. Aku menyerah. Kau terlalu memasang tebing yang tinggi, tebing yang tidak akan pernah aku bisa daki. Tebing yang menyekat antara aku dan kamu. Lalu untuk apa aku ada? Anehnya, saat aku begitu ingin berhenti. Kau seperti menyalahkan mesin penggerakku. Kau kemudian bangunkan aku, yakinkan aku bahwa aku harus terus bermimpi. Karena mimpi itu suatu hari pasti.
Aku ini kosong. Lalu mengapa aku masih disini. Karena satu keyakinan. Satu keyakinan yang aku miliki. Satu keyakinan yang aku tidak pernah sadari. Tetapi satu keyakinan yang aku anggap adalah kenyataan di masa depan.
Aku yakin aku tidak sedang bodoh, karena aku bukanlah orang yang bodoh. Aku juga tahu bagaimana harus berkata dengan waktu, mengarungi setiap detik kehidupan yang maha sempurna ini. Menenangkan hati dan berkata bahwa, suatu hari suatu hari akan ada jawaban dari setiap sujudku kepada-Nya.
Ingin rasanya aku berhenti. Ingin rasanya aku menyerah. Tapi bukan saat ini. Bukan sekarang, bukan saat aku masih memiliki seribu satu keyakinan. Bukan saat aku masih menyimpan ratusan kalimat pertanyaan. Bukan dengan keabu-abuan aku menghentikan jari-jemariku.
Aku tidak akan berhenti. Hingga suatu ketika aku benar-benar mengatakannya padamu. Aku berhenti. Aku menyerah. Kau terlalu memasang tebing yang tinggi, tebing yang tidak akan pernah aku bisa daki. Tebing yang menyekat antara aku dan kamu. Lalu untuk apa aku ada? Anehnya, saat aku begitu ingin berhenti. Kau seperti menyalahkan mesin penggerakku. Kau kemudian bangunkan aku, yakinkan aku bahwa aku harus terus bermimpi. Karena mimpi itu suatu hari pasti.
Aku ini kosong. Lalu mengapa aku masih disini. Karena satu keyakinan. Satu keyakinan yang aku miliki. Satu keyakinan yang aku tidak pernah sadari. Tetapi satu keyakinan yang aku anggap adalah kenyataan di masa depan.
Aku yakin aku tidak sedang bodoh, karena aku bukanlah orang yang bodoh. Aku juga tahu bagaimana harus berkata dengan waktu, mengarungi setiap detik kehidupan yang maha sempurna ini. Menenangkan hati dan berkata bahwa, suatu hari suatu hari akan ada jawaban dari setiap sujudku kepada-Nya.


Comments
Post a Comment