Saturday, April 30, 2016

Gagal Itu Berharga dan Berhasil Itu Bonus

Membaca sebuah artikel mengingatkan saya pada kegagalan-kegagalan dan berbagai penolakan dalam 3 tahun terakhir ini, yang pada akhirnya membuat saya berada pada kalimat, gagal itu berharga dan berhasil itu adalah bonus.

2012 lulus kuliah (biasanya orang mencari tempat untuk merintis karir):

1. Apply dan kirim CV ke lebih dari 50 perusahaan, NGO, lembaga internasional, dari yang paling berkaitan dengan background S1 sampai yang sangat jauh. Dari yang paling teknis sampai yang paling administratif, bahkan sampai apply kerja di Kedutaan Myanmar untuk posisi office administration. Bukan karena frustasi, tetapi mencoba peruntungan dan mencari jodoh-karir. Well, yang memanggil untuk test dan interview dari sekian banyak hanya: IBM, Danone, UNIQLO, dan entah lupa namanya semacam perusahaan penyedia jasa fundraising untuk lembaga-lembaga sosial. IBM dan Danone gagal saat test tulis, UNIQLO sudah sampai wawancara akhir dengan Direksinya, beliau interview dalam bahasa jepang, bersama translator-nya. Diakhir interview dia cuma bilang, well Fikriyah saya tahu kamu pekerja keras dan kalaupun kamu kerja dikita kamu akan bagus, tapi saya sih sayang sama background dan kapasitas kamu. Kamu akan dapat tempat yang lebih baik yang berkaitan dengan background kamu dan keahlian kamu. Tiba-tiba tanpa diduga-duga mendapat panggilan psikotest dari Esri Indonesia, lulus psikotest, lanjut technical assessment, lulus juga lanjut interview, dan Alhamdulillah sampai saat ini sudah lebih dari 3 tahun saya di Esri Indonesia. Dan direktur UNIQLO itu benar, "kamu akan mendapatkan tempat yang sesuai dengan background kamu. Sayang sekali kalau kamu tidak memulai karir disana."

2. Saat memutuskan untuk melanjutkan sekolah master. Karena sudah berjanji pada Paman Sam akan kembali kesana untuk sekolah. Jadi memang tidak melirik negara lain, dan jujur hanya apply sekolah-sekolah disana. Meskipun banyak masukan untuk mencoba peruntungan apply ke negara lain. Tetapi karena saya tipe yang kalau mau itu ya "itu-dulu-sampe-titik-darah-penghabisan" jadi akhirnya meskipun tidak apply ke negara lain. Dan hasilnya ya 'berdarah-darah'.

Apply sekolah di U.S tahun 2014:
- Massachusetts Institute of Technology, MCP - Dept. of Urban Studies and Planning - DITOLAK, sok-sok-an sih pake apply MIT segala, tidak meraba diri. Tapi yaudah, udah berani coba apply ajah udah senang.
- Washington University, MA in Geography - DITOLAK, pake sok-sok-an lagi pengen dimentor sama Michael Goodchild (the Father of GIS)
- Boston University, MA in Geography - DITOLAK

Apply (lagi) sekolah di U.S tahun 2015:
- Boston University, MA in GIS and Environmental Remote Sensing - DITOLAK (lagi)
- Ohio University, MA in Geography - DITERIMA
- Ohio State University, MA in Geography - DITERIMA
- University of Illinois at Urbana-Champaign, M.S in Geographic Information Science (GISc) - DITERIMA
- Penn State University, M.S in Geography - DITOLAK

Itu tidak dengan cerita satu kampus sudah pernah ditolak oleh berapa Professor. Karena kebetulan jurusan dan program yang saya apply banyak yang mengharuskan mendapatkan professor sebagai mentor terlebih dahulu. Agak tidak lazim memang dengan admission program-program lainnya di U.S terutama ilmu sosial. Entahlah, tetapi jalannya begitu untuk saya.

Saya yang masih sangat newbie dengan urusan-urusan yang berkaitan dengan sekolah di U.S justru akhirnya bersyukur dengan banyaknya kegagalan karena kegagalan adalah pelajaran berharga dan keberhasilan hanyalah bonus dari kerja keras. Tapi saya selalu percaya, orang-orang yang pada akhirnya berada 'disuatu tempat' sebelumnya dia pasti melewati penolakan, kegagalan, dan ketidakpastian dari yang dia inginkan. Akan selalu ada tempat yang baik untuk orang-orang yang mau berusaha.

Saya mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada orang-orang yang selalu ada disetiap masa sulit, selalu ada disaat saya tidak bisa menghandle kesulitan itu sendiri, mensupport dan meyakinkan bahwa saya ditolak bukan karena saya buruk melainkan karena Allah Swt. sudah menyiapkan tempat yang baik yang membuat saya lebih bahagia, meyakinkan bahwa impian saya itu bukan ingin terbang ke Jupiter atau mau membelah lautan sehingga sangat possible untuk dicapai. Terimakasih, terimakasih, terimakasih semua :) 

Artikelnya: A Princeton professor has published a CV of his failures online, and people are freaking out about it

Wednesday, March 30, 2016

ReviewBuku: Everyone Can Lead [Hasnul Suhaimi]

Everyone Can LeadEveryone Can Lead by Hasnul Suhaimi
My rating: 4 of 5 stars

Pertama kali saya bertemu Pak Hasnul (mungkin lebih tepatnya Pak Hasnul mengisi sebuah acara dimana saya menjadi pesertanya). Betul sekali seperti yang beliau gambarkan, beliau sangat jauh dari 'tampang' atau stereotype seorang CEO--bertubuh besar--beliau bertubuh mungil. Terkadang membuat saya yang bertubuh mungil ini yakin bahwa pemimpin itu bukan perkara fisik. Siapapun dengan porsi tubuh seperti apapun, berhak dan mempunyai kesempatan untuk memimpin.

Buku Pak Hasnul membawa saya kepada sebuah dekupan-dekupan dimana yang paling berkesan adalah pada bagian, bahwa Pak Hasnul pernah 'ditaruh' pada posisi dimana beliau lebih banyak melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya sangat administratif. Well, bagi orang teknis pekerjaan yang sifatnya administratif 'nggak bikin pinter', bahasanya begitu. Namun, beliau mengerjakan pekerjaan tersebut dengan sangat baik. Sehingga ketika dua tahun kemudian beliau dipindahkan ke bagian yang beliau sangat inginkan, beliau sangat siap membuat berbagai gebrakan.

Nelpon 100/menit adalah sebuah terobosan yang beliau buat. Meskipun saya bukan pengguna XL. Tetapi saya adalah korban tarif murah IM3 jaman saya SMA yang juga dicetuskan beliau.

Pak Hasnul, terima kasih telah menuliskan buku ini untuk kami baca.

View all my reviews">

ReviewBuku: Mendadak Haji [Prie GS]

Mendadak HajiMendadak Haji by Prie GS
My rating: 5 of 5 stars

Jujur saya belum familiar dengan penulis. Saya randomly membeli buku dengan topik "berhaji" karena saya mempunyai target untuk menunaikan ibadah haji sebelum saya berumur 35tahun. Semoga Allah Swt. menghendaki. Aamiin.

Kembali kepada Pak Prie GS dalam bukunya saya jujur, kadang bingung. Beliau ini sangat genuine sekali menulisnya. Menyampaikan perasaannya tanpa men-delete sedikitpun. Sangat genuine. Bahkan yang menurut saya sangat berkesan adalah beliau menuliskan ketidaksukaan beliau akan sesuatu, suasa hati, dan berbagai kekesalan-kekesalannya. Tidak banyak dari kita yang berani mengutarakan hal tersebut. Apalagi dalam sebuah buku yang akan dibaca oleh ribuan bahwan jutaan orang mungkin.

Bagi saya, membaca buku Pak Prie GS bukan hanya memberikan insight dan pengetahuan mengenai haji, gambaran bagaimana 'berat'-nya ibadah haji, tetapi beyond dari itu semua. Pak Prie GS berhasil mendidik saya bahwa, kesenangan itu akan diikuti oleh ketidaksenangan, dan sebaliknya. Jadi belajarlah untuk membiasakan diri untuk biasa saja dalam dua kondisi tersebut. Karena mereka sejatinya silih berganti.

Pak Prie GS, terima kasih atas nasihatnya. Alhamdulillah, saya sedang belajar menerapkannya dan merasakan manfaatnya dari menjadi 'biasa saja' tersebut.

View all my reviews">

Wednesday, March 16, 2016

Alwi

Pagi itu, seperti biasa aku selalu terburu-buru untuk berangkat ke kantor. Kali ini bukan karena ada meeting dengan klien ataupun karena men-training users. Tetapi karena aku ingin berangkat lebih pagi saja. Aku melihatnya, dia duduk didepan televisi. Rumah Kosan kami yang sederhana dengan beberapa bangku plastik kecil dan dua meja dihadapannya semakin mendramatisir kesederhanaan Rumah Kosan kami. Aku melihatnya, Alwi. Matanya sembab, wajahnya murung, dan sepertinya dia memikirkan sesuatu yang sangat berat. Aku memang bukan dukun yang jago cenayang, aku hanya seseorang yang sedikit suka menduga-duga dan berspekulasi. Dan kali ini aku benar.

Aku terprovokasi dan mengalihkan langkah kecilku, bukan ke dapur dan keluar Rumah Kosan lalu berangkat ke kantor. Aku menghampiri Alwi, aku pastikan bahwa aku duduk tepat disampingnya.
“Masih memikirkan jodoh?” Tanyaku singkat. Dugaanku kali ini sudah pasti tidak salah.
Aku memang bukan perempuan yang mengejar sekali jodoh. Selain karena memang belum benar-benar ingin berumah tangga, aku juga yakin bahwa semua hal baik itu akan terjadi diwaktu yang baik juga.

“Fik.. Aku sudah 28 tahun. Dan aku perempuan.”

Saat itu umurku masih 25 tahun. Aku dengan segala keambisiusanku yang kadang kesampaian dan lebih banyak tidaknya. Aku hanya mendengarkannya. Akupun tidak dapat membantu Alwi. Aku bukan perempuan yang sudah menikah, aku tidak ingin sok menasehati orang untuk sesuatu yang aku sama sekali tidak berpengalaman dibidangnya.

“Al.. Pegang tanganku. Coba buka, ini ada berapa?” Aku berusaha untuk berempati pada Alwi. Alwi, adalah perempuan yang ceria dan selalu bersemangat. Mirip-mirip dengan aku dalam beberapa hal. Senang melakukan hal-hal yang merepotkan dan mau menyelesaikannya hingga selesai.

“Ada sepuluh Fik, tangan kamu lima, dan tanganku lima.” Dia berucap.

“Al, aku tahu kamu sudah tidak punya pilihan. Usaha sudah kamu lakukan. Tapi ingat kamu masih punya satu pilihan. Pilihan untuk bersabar.” Aku tersenyum.

“Dan kita masih punya pilihan untuk bersemangat, menikmati hidup, dan mensyukuri semuanya. Kamu pasti bisa Al.” Tambahku lagi. Klasik, begitu pikirku. Tetapi dipagi seperti ini, aku belum berselera untuk berkata-kata lebih.

Aku kemudian pamit dan tidak lupa memeluknya. Alwi pasti kuat, aku yakin. Dia bukan perempuan kacangan yang mau meratapi ketidakmampuannya untuk mencapai sesuatu hanya dengan menangis.

***

Alwi, sudah lama aku mengenalnya. Sejak kami satu Rumah Kosan dan Alwi secara umur lebih tua dariku tiga tahun dan secara angkatan lebih tua dariku empat angkatan. Dia angkatan 2003, aku lupa sejak kapan dia memutuskan untuk kembali ke Rumah Kosan kami, setelah dia sempat pula menghuninya saat kuliah dan meninggalkannya saat lulus. Yang aku ingat, dia kembali serumah denganku dan begitu aku selalu mengingatnya.

Alwi sudah tidak mempunyai Ibu, Ibunya sudah meninggal karena sakit. Tapi bukan itu yang ingin aku bicarakan dalam kata-kataku ditulisan ini. Yang pasti, ketika Tuhan Yang Maha Kuasa mengambil sesuatu yang kita cintai dari kehidupan kita, percayalah bahwa Ia akan menggantikannya dengan bentuk yang lain. Kebahagiaan datang dari sisi mana saja, asalkan kita mau membuka diri untuk itu.

Sejak satu tahun belakangan Alwi getol sekali mencoba peruntungannya untuk mencari jodoh. Selain karena faktor umur yang makin tidak bisa dibohongi, Alwi semakin tua. Begitu dia kerap berucap. Meskipun keceriaan selalu menutupinya. Namun, yang namanya perempuan itu selalu saja takut bertambah tua. Alwi sudah mencoba berkali-kali untuk bertaaruf dengan beberapa ikhwan. Dan masih juga gagal. Dia tidak berhenti untuk mencoba. Aku terkadang bingung, bagaimana dia mengatur fluktuasi hatinya. Jangankan mencoba taauruf dengan beberapa ikhwan lalu gagal, lalu coba lagi dengan ikhwan yang lain. Jangankan begitu, mencoba penjajakan dengan satu pria saja dan gagal, aku mungkin butuh waktu minimal satu-dua tahun untuk bisa bangkit. Haha.. itukan aku ya, bukan Alwi. Alwi—untuk urusan perasaan—ia (sepertinya) ditakdirkan lebih kuat dariku.

Hari demi hari, bulan demi bulan, bahkan tahun tak ketinggalan berganti, Alwi dengan kesibukannya bekerja tidak pernah menyerah untuk berusaha mencari jodoh. Aku terkadang malu dan sering merasa tertampar karena aku begitu malas mencari jodoh. Nemu satu orang saja aku sudah heboh, nemu satu orang saja aku sudah berjustifikasi kalau aku berusaha keras. Padahal tidak ada seujung kuku dengan perjuangan Alwi, ah untungnya tidak pernah ada pembahasan ini. Aku memang belum niat, begitu selalu excuse-ku. Udahlah belum saatnya. Dalam hati.

Dan hari itu, Alwi lagi-lagi bercerita bahwa dia gagal dengan seseorang, entah orang yang mana lagi. Hingga akupun menjadi terprovokasi untuk membantu mencarikannya jodoh. Waktu itu, tepat disaat yang bersamaan sedang ada seorang pria yang menghubungiku untuk dicarikan jodoh juga, ah dayung bersamput. Pikirku. Dengan segala ketakutan—aku sudah pernah mengenalkan temanku kepada temanku yang lain, mereka ended up menikah. Tetapi aku yakin bukan karena aku kenalkan, karena memang sudah jodoh saja—rasa takut mengenalkan orang yang berniat untuk menikah, takut tidak cocok dan down itu tidak pernah luput dari rasa takutku.
Aku, dengan segala ketakutan itu akhirnya mengenalkan Alwi kepada pria itu. Berselang dua minggu mereka bersama murabbi-nya bertemu. Lebih tepatnya Alwi yang ‘membawa’ murabbi-nya. Disisi lain aku senang, tapi disisi lain aku sedih karena setelah hari pertemuan itu, pria tersebut tidak pernah memberi kabar dan kelanjutan proses taaruf tersebut kepada murabbi Alwi. Aku sedikit kesal dan merasa menambah list kekecewaan Alwi dalam pencarian jodoh. Akupun menambah list kegagalannya. Tapi siapakah aku? Aku toh hanya ingin membantu. Aku hanya berpikir bahwa si pria memang tidak niat. Dan membantu Alwi menguatkan dirinya. Meskipun puing-puing kegagalan seperti menerjangku, Alwi mungkin sudah move on dengan kegagalannya, tetapi aku seperti yang belum ikhlas jika Alwi harus kecewa seperti itu (lagi).
Hari demi hari lagi-lagi berlalu. Alwi tidak pernah menyerah. Tetapi entahlah, aku jujur yang menjadi sangat bosan dan lelah. Aku, dengan menyadari betapa Alwi seharusnya tidak bersedih menjadi sebal dan sedikit banyak selalu terpancing untuk berkata,

“Yaudah kalau mau PDKT, pedekate ajah Mbak, tapi expect less ya. Jangan berharap bakalan sampai ke pelaminan dan lain-lain. Temenan ajah dulu. Udah, klo lanjut ya syukur kalau nggak, nggak sedih-sedih banget nantinya.” Aku memberanikan diri dengan kalimat yang datang sekonyong-konyong dari otak, hati entahlah. Dilupakan sejenak dalam kondisi seperti ini.
Duh… sebenarnya aku tidak sanggup berkata demikian kepada Alwi. Aku tahu, saat sedang senang dengan seseorang dan ‘diomongin’ demikian oleh teman itu pasti sangat menyebalkan. Tetapi aku tidak mau Alwi bersedih lagi. Sayangnya Alwi selalu begitu. Hingga pada suatu hari, dia mem-forward sebuah informasi beasiswa S2 dan S3 kepadaku, dimana sebetulnya aku sudah mempunyai informasi yang sama dengan yang dia forward. Besoknya, aku mengajak Alwi untuk bertemu di ruang tivi dan berbicara. Aku yakin ada jalan untuk Alwi. Jalan agar tidak melulu memikirkan perkara jodoh.

*** 

Pagi itu obrolan kami seperti bukan antar Anak Kosan dengan Kakak Kosannya. Tetapi lebih kepada aku yang tidak ingin Alwi terlalu memaksakan diri untuk mencari jodoh dan selalu gagal dibuatnya, namun kali itu Alwi yang menggebu-gebu galau dengan informasi beasiswa itu.
“Why don’t you apply that scholarship?” Ucapku. Hanya itu. “Do it please, Mbak…”

Beberapa waktu sebelumnya, entahlah. Kami sudah berbicara, Alwi melepas les bahasa jepangnya dan mengikuti les toefl, tanpa tujuan apapun.

“Les ajah dulu Mbak, nanti pas butuh udah ada. Tes ajah dulu Mbak, nanti pas butuh udah tinggal pakai.” Kira-kira begitu sedikit saranku untuknya.

Alwi dalam beberapa hal mendengar omonganku, karena ada beberapa track record-ku urusan begini yang menurut dia aku cukup experienced. Perkara ditolak berbagai beasiswa saat S1 dulu, terlebih perkara urusan kegiatan internasional yang tidak jauh dari penolakan juga. Tetapi Alwi sedikit percaya, bahwa pengalaman hidup-ku-didunia-itu mengajarkanku banyak hal yang ingin sekali dia kloning.

Tanpa diduga-duga dan tanpa berharap banyak Alwi lulus beasiswa S2 itu. Dia juga mengambil program studi dikampus kami sehingga masih satu Rumah Kosan. Hidup seperti terus bergulir dan berubah. Aku selalu merasa senang karena dia melibatkanku dalam pengambilan keputusan besarnya. Mengambil S2, dan resign dari pekerjaan yang menurut dia sudah tidak bisa lagi diteruskan. Terlalu menyiksa dan membosankan. Aku hanya mengacungkan jempol untuk ini. Jika tidak hepi mending disudahi saja. Begitu kalimat singkatku saat dia juga berkonsultasi untuk resign.

***

Semuanya berubah. Alwi sudah tidak lagi memikirkan perkara jodoh. Kami sepakat bahwa, setiap hal baik didepan mata yang ada harus dikerjakan dengan sepenuh hati.
“Singkat saja.. Siapa tahu pas sekolah toh kamu nemu jodoh Mbak. Jodoh dan sekolah bukan dua hal yang tidak bisa dikerjaan bersamaan toh. Jadi sekarang, tidak usah dulu deh galau-galau mencari jodoh. Nanti Allah kasih kok Mbak”.

Aku toh pada akhirnya keluar juga kalimat itu. Padahal sudah aku tahan bertahun-tahun. Aku tidak mau menasehati atau berkata perkara jodoh kepada perempuan manapun. Aku tidak berpengalaman. Tetapi pada Alwi, aku berkata begitu.

“Sekolah dulu, banyak pertemanan baru. Hidup baru, dunia baru. Kamu bakalan sibuk sama teman-teman, tugas-tugas, tesis, dan lain-lain. Perkara jodoh diserahkan kepada Yang Paling Berhak saja, Dia sudah siapkan untuk kamu.”

Aku memang lebih muda tiga tahun dari Alwi, tetapi urusan teori jodoh aku selalu diberikan skor A++ oleh kebanyakan teman-temanku, meskipun untuk praktek jodoh itu sendiri aku masih E-, alias tidak lulus, karena belum menikah. Hanya dengan Alwi, aku berani sok tahu. Sok pintar, dan sok-sok-an, karena memang itulah yang Alwi suka dariku. Dari sekian banyak pembicaraan yang sudah kami lalui selama satu Kosan.

***

Tidak ada lagi hari yang kami lalui dengan pembicaraan kegagalan pencarian jodoh Alwi. Obrolan pagi kami selalu kami isi dengan kabar kuliah Alwi, fieldworks-nya, dan rencana tesisnya. Begitu juga dengan aku, aku yang sedang ‘roller coaster’ dengan pencarian tempat berlabuh untuk menyambung hidup dengan judul sekolah S2 di Tanah Pama Sam.
Seperti pagi itu, Alwi sudah bangun lebih dahulu dari aku. Ku buka pintu kamarku, dia sudah duduk didepan tivi.

Morning! Haha masih ngantuk aku. Masih ngumpulin nyawa. Bangun jam berapa Mbak? Udah selesai ya solatnya?”

Aku berjalan menuju kamar mandi yang menempel langsung dengan kamarku dengan mata masih sedikit tertutup. Aku melihatnya samar-samar. Nada bicaraku tidak salah, aku cukup jago dalam berucap-ucap, meski mata masih tertutup.

“Haha dari jam tiga, Fik.” Timpalnya, menyadari aku yang masih tertatih-tatih menyambung nyawa.

“Pantes, 3.30 kamu udah didepan tivi. Gak tadarus? Eh aku wudhu dulu ya. Solat dan lain-lain. Habis salat subuh nanti aku kesitu.” Dari kejauhan aku meninggalkannya, memasuki kamar mandi.

Pagi itu, bahkan terlalu pagi untuk mengobrol. Aku menghampirinya yang sedang menonton sebuah tayangan jalan-jalan-muslim. Aku lupa saluran televisi mana yang menayangkannya. Dia begitu semangat. Itu yang kadang membuat aku begitu bahagia, melihat orang dihadapanku bahagia.

“Ada kabar apa?” Aku membuka percakapan pagi buta itu.

“Fik.. Aku mau selesai nge-kos. Kamu gimana? Nampaknya kuliahku sudah sedikit, seminggu cuma satu dua hari saja harus ke kampus.” Kalimat itu seperti berat.

Bagiku, ini bukan kalimat pertama yang disampaikan oleh seseorang yang dekat denganku di Rumah Kosan ini. Untuk kesekian kalinya, seseorang berkata dengan nada begitu berat saat ingin meninggalkan Rumah Kosan ini. Begitupun aku kelak, ini tahun kesembilan aku di Kosan. Sudah banyak (yang bahkan) sampai menangis saat menyampaikan rencana kepindahannya kepadaku.

“Ah that’s great, Mbak. Aku pikir juga sudah saatnya kamu kembali ke rumah. Your Daddy is waiting. Dan aku pikir ini adalah waktu yang baik. Kamu sudah dewasa dan sudah bisa berdamai dengan Ibu Tirimu.” Aku tersenyum. Sesak rasanya dan selalu begitu.

Aku langsung teringat beberapa bulan lalu, aku bertemu dengan seorang Bapak yang cukup berumur di sebuah kota di Kalimantan. Aku yang tidak pernah menolak diajak mengobrol oleh siapapun, kali itu menghabiskan waktu menunggu pesawat dengan percakapan panjang si Bapak.

“Kamu tidak perlu berlebihan dalam menyayangi seseorang atau siapapun, jika itu terjadi kamu hanya akan menjadi jauh darinya.” Entahlah, padahal percakapan panjang kami tidak sedikipun merambat pada peristiwa yang ada didalam ruang kecil bernama hati. Si Bapak hanya tahu bahwa menurutnya aku adalah pribadi yang penyayang. Apalagi kepada orang yang menurut aku ‘patut’ untuk disayangi.

Mungkin itu ada benarnya, ada banyak sekali Anak Kosan yang cukup klik denganku. Meskipun tidak semua. Kehadiran mereka seperti Kakak dan Adik dalam kehidupan keseharianku dirumah itu. Kadang aku senang menyebut Kosan sebagai Rumah. Sehingga ketika satu persatu mereka pergi, sesak itu tidak berani ku tolak. Begitupun pagi itu saat Alwi memberitahuku bahwa dia tidak akan lama lagi tinggal bersama kami.

Aku sesak, saat itu. Tetapi aku sadar, hidup harus terus berjalan. Manusia datang dan pergi dalam hidup kita, tanpa sedikitpun dapat kita atur. Sungguh, kita tidak pernah bisa memilih siapa-siapa saja yang kita perkenankan untuk terus berada disana, didalam ruang kecil yang orang namai hati.

***

“Fik.. Aku stay dikamar kamu ya. Aku harus menyelesaikan paper-ku untuk ke Korea. Bisa?” Kalimat terpotong-potong disebuah aplikasi bernama WhatsApp mengagetkanku.
“Hey, sure! Kapan Mbak?”

Obrolan kami menjadi sangat panjang. Alwi akan stay di Kamarku pada saat aku harus pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan kantor.

“Kamu stay ajah tanpa aku ya..” Sok ajah lakuin yang kamu mau ya Mbak. Pikirku.
Keceriaannya seolah kembali menemani dirinya. Dia mendapatkannya. Keceriaan dan semangat kembali ia miliki. Aku bahagia.

***

Senja ini, Alwi mengunjungiku. Mengantarkan aku seperempat Kopi. Katanya kopinya enak, mana bisa aku menolak pemberian manusia yang bernama kopi. Sebetulnya sore ini aku ingin sekali berleyeh-leyeh dan tidak menerima tamu. Tetapi yang ingin berkunjung adalah seorang Alwi. Salah satu teman baikku.

“Fik, aku sudah diluar ya..” Kalimat singkat itu membuat aku menjadi bersemangat. Segera ku buka pagar dan juga pintu Kosan.

Kami mengobrol panjang. Sedikit mengenai jodoh, tetapi kali ini. Alwi tidak hadir dengan muram durjanya. Ia mengabarkanku bahwa setelah kegagalannya yang terakhir. Bahwa setelah sidang tesisnya selesai dan dia menyelesaikan wisudanya. Kebahagiaan itu disusul dan dilengkapi oleh keberhasilannya bertaaruf. Bulan depan Alwi akan menikah.

Aku sesak. Sungguh. Tetapi bukan sesak karena kekhawatiran akan kondisi hati seorang sahabat baik. Melainkan sesak karena manahan rasa bahagia. Entahlah. Bagiku, ini benar-benar waktu yang sangat tetap. A perfect time that Allah gave her. Right after she has finished her master program, graduation, and paper presentation. Perfect! Allah Swt. is always perfect in everything. Rasanya aku ingin sekali memeluknya, tetapi aku sedang dalam program mengurangi kelebayan dan mengurangi dramatisasi atas suatu kebahagiaan. Aku hanya ‘bubbling’ dan mengucapkan selamat kepadanya, dengan penuh perasaan tidak sabar ingin menuliskannya. Menulisakan ini. :)

Bertahun-tahun Alwi memimpikan seorang pendamping hidup, seorang iman yang mampu memimpin kehidupan berkeluarganya kelak. Tidak ada satu orangpun yang mengetahui bahwa Allah Swt. sudah menyiapkan skenario begitu tidak terduga. Siapa yang pernah berpikir bahwa Alwi tidak Allah beri jodoh diumur 25, 26, 27, 28 bahkan 29. Tetapi diumur 30, setelah ia menyelesaikan pendidikan masternya. Setelah dia merasa beres dengan dirinya. Siapa sangka?
Tidak ada satupun. Meskipun tiga tahun lalu, misteri jodoh Alwi selalu menjadi pertanyaan besar bagiku. “Allah Swt. apa gerangan yang sedang Engkau persiapkan untuk sahabatku Alwi?” Pun aku tidak pernah sedikitpun berpikir bahwa Allah benar-benar memberikan sebuah skenario yang menurutku sangat sempurna.

Allah tahu tapi menunggu. Menunggu saat yang tepat untuk Ia berikan kepada kita. Begitu aku berucap saat melihat Alwi sudah siap meninggalkan Kosan, sore itu. Diufuk senja, aku segera kembali ke kamarku, menyambar laptop dan menulis.

Allah adalah sebaik-sebaiknya Pemberi Keputusan. Percayalah, Dia hanya akan memberikan kita sesuatu disaat sesuatu itu memang tetap untuk kita. Dan diwaktu yang tepat pula.

September 20, 2015 - 18. 21 WIB


Karena, kesabaran itu tidak pernah ada yang sia-sia. (FW, 2015)

Wednesday, February 10, 2016

Bagaimana Sikap Kita Kepada Oranglain Dapat Menggambarkan Pencapaian Kita

Beberapa waktu lalu saya diminta mengisi acara di universitas tempat saya berkuliah dulu, UI. Tidak berbeda jauh dengan 'permintaan' sebelum-sebelumnya. Intinya saya diminta untuk memberikan motivasi, menginspirasi, dan membagikan tips bagaimana bangkit dari sebuah kegagalan. Saya, yang menurut saya pribadi masih jauh dari ekspektasi panitia untuk menginspirasi, pada akhirnya berangkat dari memotivasi dan membagi pengalaman bagaimana bangkit dari kegagalan. Berbeda dengan kondisi di kelas kuliah (kebetulan akhir-akhir ini saya sering berjalan dari satu universitas ke universitas lain menjadi 'evangelist' kelas teri dibidang GIS) dan dikelas training atau workshop yang sering saya adakan. Kelas atau sesi seminar atau talkshow motivasi yang diminta panitia pada dasarnya, membuat saya lebih banyak bercerita pengalaman. Syukur-syukur setelah itu ada mahasiswa yang benar-benar akan menghubungi saya melalui email atau whatsApp dan memang mengatakan keseriusannya untuk di-coach dengan target dan waktu pecapaian yang jelas. Kenapa? Karena biasanya satu dua hari setelah seminar atau talkshow akan banyak yang meng-email dan me-whatsApp saya tetapi tidak banyak yang kontinyu untuk mencapainya. Sehingga, ketika ada beberapa orang yang serius dengan mimpinya, saya juga akan semangat untuk membantunya. Sebisa saya.  

Kembali kepada acara tersebut, saya sering mendapatkan banyak pertanyaan dari pertanyaan yang saya pikir bisa dijawab langsung oleh Paman Google, dan saya akan berkata, "Silahkan untuk di-check langsung dari web kampus yang kamu minati dan pelajari baik-baik persyaratannya.." Karena 'server' otak saya belum mampu menyimpan informasi admission dari semua universitas. Alih-alih dengan jurusan yang sama dengan saya, saya mungkin sudah men-stored-nya terlebih dahulu, sehingga hanya perlu re-call saja. Tetapi untuk jurusan yang mungkin sangat jauh dari bidang saya tentu saja saya tidak begitu familiar dan tidak paham betul. Jadi, mohon dipelajari baik-baik. Begitu kata saya. Namun, dari banyaknya pertanyaan yang sering dilontarkan oleh audience ada pula pertanyaan-pertanyaan yang memberikan saya wawasan baru, bahkan lebih jauh dari itu, memberikan saya 'pr' untuk memikirkannya minimal dari sehabis acara sampai sebelum tidur. Ya, hari itu, dalam catatan pertanyaan yang saya terima ditahun 2015 ada satu pertanyaan yang membuat saya memikirkannya.

"Mbak Fik, menurut Mbak Fik apakah yang membuat saya gagal? Saya rasa persiapan saya untuk mendaftar sebuah beasiswa sudah sangat matang. Score ielts saya juga lebih dari cukup, pengalaman saya baik akademis dan non-akademis juga sudah mencukupi..." (Saya tidak paparkan pertanyaan lengkapnya. Intinya seperti itu?)

Main question-nya adalah kenapa saya gagal? Saya hanya tersenyum dengan pertanyaan itu. Lalu seselesainya dia bertanya saya sempatkan untuk memberikan quick question juga, 
"Kamu sudah melakukan evalusi kenapa kamu gagal dan ditolak oleh beasiswa tersebut?"

Kebetulan beasiswa yang Ia maksud adalah beasiswa yang saya juga menjadi awardee-nya. Jadi sedikit banyak saya paham karakter seperti apa yang beasiswa tersebut cari.

Saya tidak ingin berkata, jika dibaca lagi kalimat tanyanya dan jika saya lanjutkan menulis kalimat tanya tersebut, tentu saja ada tone sedikit keangkuhan. Namun bagi saya pribadi siapapun dia yang berkata dihadapan saya, itu hak dia untuk angkuh, dan itu tidak ada yang salah. Bebas. Santai, monggo-monggo saja. Saya juga tidak ingin melihat dari point of view, bahwa Anda mungkin bukanlah orang yang mereka cari, otherwise Anda berusaha menjadi orang yang mereka cari. Atau, ah.. belum rezeki dicoba lagi ajah, atau apply juga beasiswa lain jangan menggantungkan diri hanya pada satu beasiswa. Bukan itu. Bagi saya, itu adalah jawaban yang mungkin akan dijawab oleh orang lain. Tetapi menariknya, jujur saya memikirkan sekali hingga malamnya sebelum tidur. Saya mempunyai ritual panjang (30-45 menit sebelum tidur), dari mulai berganti pakaian tidur, menggosok gigi dan mencuci muka, berwudhu, memakai cream malam, meng-kerprikan/menyapu tempat tidur dengan sapu lidi seperti perintah Rasul Muhammad, meminum air putih, membaca doa dan ayat kursi, dan yang terpenting adalah memikirkan apa yang terjadi seharian penuh sambil bersyukur kepada-Nya atas 'gift' sebuah hari yang baru saja saya lewati. Dan malam itu, saat lampu kamar sudah saya matikan saya teringat pertanyaan audience diseminar tersebut. Lalu saya, berpikir bahwa hal terpenting yang mungkin Dia (si penanya) itu lupakan adalah sikap. Sikap kita terhadap orang lain yang mungkin akan mempengaruhi pencapain kita. 

Bagaimana kemudian sikap kita, bagaimana kita memperlakukan orang lain dapat mempengaruhi pencapaian kita?

Mungkin saya bukanlah orang yang tepat untuk menggambarkan hal tersebut karena saya juga sedang belajar disana-sini untuk menjadi lebih baik lagi dari hari kehari. Namun, tiga tahun belakangan ini, saat umur semakin bertambah besar angkanya. Saat saya harus meninggalkan angka kurang dari dua puluh lima, saat saya harus membuka mata lebar-lebar bahwa manusia dalam hidup kita datang dan pergi, mereka silih berganti mengisi hari-hari kita. Ada yang datangnya lama lalu pergi, ada yang cuma 'parkir' saja, ada yang betah tinggal diruang hati kita, dan ada juga yang berusaha kita 'tinggalkan' karena satu dan lain hal (aka move-on). :P Tetapi terlepas dari itu semua, Tuhan selalu memberikan dan mengirimkan orang-orang hebat yang membantu kita mencapai impian-impian kita, orang-orang yang merelakan waktunya untuk membantu kita mendekati goal besar kita dalam hidup ini. 

Kembali kepada bagaimana kita memperlakukan orang lain, jawabannya hanya ada didalam hati kecil kita karena hanya hati kecil kitalah yang tidak pernah mampu untuk berbohong. Memperlakukan orang lain disini tidak terlepas dari memperlakukan orang-orang yang dekat dengan kita. Dijaman yang serba canggih dan sikap individualis yang tidak mampu kita cegah, kita pasti akan berpikir, "suka-suka gue dong, gue-gue terserah gue ajah". Terus kalau gagal juga bakal nangis-nangisnya ke oranglain. Masih gak mau bersikap baik? Masih gak mau bersikap sopan? Oranglain disini adalah orang diluar kita, bisa jadi Ibu kita, Ayah kita, Kaka kita, Adik kita, saudara, sahabat kita, teman-teman kita, boss kita, kolega dan rekan kerja kita, business partner kita, dan lainnya. Semua orang diluar diri kita.

Apakah pernah saat kita gagal kita bertanya kepada diri kita? Kenapa saya gagal? Jawabannya selalu dan selalu, karena kurang persiapan, tidak well-prepared, kurang keren essay-nya, kurang stand-out letter of motivation-nya atau personal statement-nya atau statement of purpose-nya. Kurang bisa impress interviewernya, kurang meyakinkan jawaban-jawabanya, dan lain dan lainnya. Tetapi apa pernah kita saat gagal kita bertanya kepada diri kita? Kenapa ya kok saya gagal? Apa ada korelasinya dengan bagaimana saya memperlakukan oranglain? Jangan jauh-jauh kepada oranglain yang tidak dekat dan tidak akrab dengan kita. Orangtua dan keluarga, lalu sahabat kita dulu deh. Sudah kan kita memperlakukan mereka dengan baik? Sudahkan kita 'sopan' terhadap mereka? Lagi-lagi, saya sadar kapasitas saya untuk bicara seperti ini memang masih jongkok. Tetapi itulah yang kira-kira saya pelajari dalam tiga tahun belakangan ini. Saya mempunyai sahabat yang menurut saya, dia adalah salah satu raising stars ditempat dia bekerja dan ketika dipelajari lebih jauh, dia memperlakukan keluarganya super sekali begitu juga dengan orang-orang disekitarnya. Hampir tidak pernah membuat cacat hati oranglain. Namun saya juga mempunyai seorang teman yang sangat saya sayangi namun terkadang saya selalu bertanya kepada diri saya, "Kok dia begitu amat ya?" meskipun langsung istigfar dan yaudahlah karena kadang dibikin frustasi oleh kalimat-kalimatnya yang kadang, yaampun kalau begini sikapnya kan kita semua jadi tidak bisa membantu agar dia bisa capai apa yang dia mau. Karena akarnya sering tidak mengenakan. Mungkin terkadang kita tidak sadar dengan sikap kita sehari-hari kepada orang-orang disekitar kita. Tetapi itulah yang cukup lama saya renungkan dan saya catat betul, bagaimana sikap kita terhadap oranglain dapat menggambarkan pencapaian kita, dalam hal apapun. Mohon maaf, saya sama sekali tidak bermaksud membanding-bandingkan orang lain, dua orang baik disekitar saya. Tetapi sungguh, dan sejujurnya saya hanya ingin kita sama-sama mempelajari dan mengambil hikmah dari bagaimana berilaku kita kepada oranglain.

Kita tidak akan pernah bisa menyenangkan hati semua orang, karena siapa sih kita. Rasulullah sendiripun mempunyai banyak sekali orang yang tidak senang kepadanya.  Tetapi Beliau tetap bersikap baik kepada siapapun. Meskipun ada orang yang meludahi Beliau, Beliau tetap menjenguk saat orang tersebut sakit. Begitu kira-kira. Sekali lagi, kapasitas saya memang belum pantas berbicara seperti ini. Tetapi tidak ada salahnya jika saya menuliskannya untuk sama-sama menjadikan pelajaran berharga bagi kita semua dalam bersikap kepada siapapun disekitar kita. 

Sekali lagi, banyak sekali faktor yang membuat kita gagal. Bisa karena kita kurang persiapan, bisa karena niat dan doa kita kurang kuat, bisa karena sedekah kita kurang banyak, bisa karena memang kita bukanlah orang yang dicari dan diinginkan, bisa karena Allah Swt mempunyai tempat dan kesempatan yang jauh lebih baik untuk kita, bisa karena Allah Swt ingin melatih kita lebih sabar dan menjalani segala proses dengan baik. Dan tidak ada salahnya juga untuk bertanya kepada hati kecil kita, "sudah kan kita memperlakukan oranglain dengan baik?"

Terima kasih dan selamat beraktivitas. Semoga kita selalu bersemangat untuk memperlakukan setiap orang dengan baik, sebaik yang kita bisa.

Jakarta, 22 Januari 2016 - 16.00 WIB
Salam hangat,


Fikriyah Winata

Wednesday, January 6, 2016

Be patient, be persistent, be confident, believe in yourself and your vision, and finally work harder than you ever have before. --Inder Singh