Skip to main content

Ibu-ibu Kampung Bulu, Tambun Bekasi


Mengajar di komunitas adalah hal sangat menyenangkan. Kegiatan voluntary sangat berbeda dengan kegiatan profesional lainnya. Kegiatan ini memang tidak berbayar mahal seperti pekerjaan-pekerjaan profesional kita. Tetapi kegiatan ini justru membayar dengan nilai kehidupan yang tidak pernah terbayar oleh apapun. Memberikan edukasi kepada masyarakat, khususnya Ibu-ibu yang tidak mempunyai pengetahuan lebih banyak dari kita dalam beberapa hal. Tidak mampun mengakses teknologi seperti kita saat ini. Mereka bukan tidak ingin belajar, mereka banyak tidak mendapatkan kesempatan seluas dan sebesar kita. Mereka sangat semangat belajar. Melalui @ppkmindonesia, sebuah kegiatan sosial untuk masyarakat ditatanan bawah, saya mendedikasikan sedikit waktu yang saya miliki, saya bagi dengan mereka. sangat menyenangkan.

Kegiatan ini adalah saat saya memberikan training Perencanaan Keuangan untuk Keluarga kepada Ibu-ibu Pembantu Rumah Tangga (PRT) di Kampung Bulu, Tambun Bekasi. Saya memang bukan orang dengan background finance, bahkan sangat jauh sekali. Terapi di @ppkmindonesia saya belajar banyak dari teman-teman dan team ppkm. Tidak ada hal yang tidak bisa kita pelajari, terlebih bila tujuannya adalah untuk membangun masyarakat. 

Comments

Popular posts from this blog

TE466 Self-branding Assignment: Fikriyah Winata

One day, my roommate told me: “Fik, you should take a rest. You have been working too long, take a break and don’t be too hard to yourself.”   I suddenly stop writing and calculating some math on GRE problem sets—at that time, I was preparing for my PhD application. Her thoughts about how hard I worked stopped me for seconds and gave me time to think and ask, “Have I been working too hard?”   I personally never think that I work ‘hard enough’, I always feel never enough in working. I always demand more to myself to improve my quality to be a better person. I take everything very seriously including something very small for others. To me, there is no unnecessary thing. Everything is important, and everything has its own value. And I will be taking every single work I have seriously, even it is only doing some dishes at my kitchen home.  My roommate’s perspective then made me really counted the duration I was studying, the number of problem sets I had solved, and how...

Japan! I promised u that I would be back!

Tokyo, 25 April 2011 Sekitar pukul 05.00 waktu setempat (Bandara Narita Tokyo) kami landing dari Minneapolis. Kebetulan saat itu rombongan IELSP Cohort 8 Iowa State University sudah tidak ditemani oleh pihak IIEF. Ali Ibrahim sebagai ketua rombongan dan saya sebagai wakil ketua rombongan. Sebagai orang yang sedikit mengerti dunia pesawatan saya mengambil peran lebih banyak saat kepulangan rombongan. Khususnya hari itu.. Delta Airlines (Pesawat kami) terkena petir Setelah mengantri di Security Check Bandara Narita saya segera mengalihkan teman2 untuk menuju Gate kami. Saat itu masih tidak banyak orang, kami berlari 'hurry' karena waktu transit tidak lama dan FYI : security check bandara narita 'agak' remphong, ribet, dan antrinya panjang, maklum Narita adalah salah satu bandara sibuk di Dunia. Setelah menunggu tiba2 ada pengumuman kalau pesawat kami akan delayed selama 30menit. Its okay , itu biasa. Kita tidak pernah tahu apah yang terjadi diudara. Tiba2, delayed...

Sebuah Surat Untuk MIT

Dear MIT, Saya deg-degan saat menulis surat ini. Saya pikir saya mungkin hanya sedang tidur disiang hari dan bermimpi. Dan saat itu saya bertemu dengan Anda. Tiga tahun yang lalu saya sempat mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program pertukaran mahasiswa dengan beasiswa penuh dari pemerintah Amerika. Saya berkesempatan untuk mengikuti kegiatan perkuliahan di sebuah universitas bernama Iowa State University, untuk program IEOP (Intensive English and Orientation Program). Ada banyak hal yang membuat saya mampu menjelaskan kepada diri saya bahwa saya harus kembali ke Amerika. Saya juga pernah mengikuti kuliah musim panas di Jerman, namun entah kenapa kegiatan tersebut tidak membuat saya ingin kembali mengikuti kelas-kelas di Jerman, saya tidak berkata kelas perkuliahan di Amerika lebih baik daripada Jerman. Namun lebih kepada tingkat kecocokannya dengan saya secara pribadi. Saya punya alasan yang kuat untuk kembali ke tanah Paman Sam, alasan terbesar adalah encouragement ya...