Putting Ego Aside

Terkadang bisa melewati satu hari yang terasa sulit, terkesan seperti panjang, dan seolah tidak ada ujungnya, adalah sesuatu yang ke-esokan harinya kita syukuri. Dalam ruang hati kita, kita perlahan berkata. Ah... stormy day sudah berlalu, terima kasih ya Allah telah membantu saya melewatinya. Hari ini adalah hari yang baru, satu hari yang Engkau berikan, dan satu hari yang ini aku lewati dengan baik.


Pagi ini, tidak seperti Sabtu-sabtu yang lain yang aku awali dengan bangun di sepertiga malam terakhir untuk tahajjud, dan all other solat sunnah, all the way ke witir, dan solat sunah fajar, lalu subuh. All the way ke tilaawah dan breakfast. Lalu ikutan Community Yoga at the Lake, a self-date to read a book with a latte at a coffee shop, then go to the gym for BodyPump class. Hari ini, semuanya sama, cuma sehabis subuh, dan sehabis breakfast, aku izinkan diri aku untuk tidak pergi yoga, dan tidak pergi ke gym.. dan aku pengen dirumah ajah beberes rumah (dibantuin Robo -- harus banget ini Robo kecilku di acknowledge karena it's contribution for helping me cleaning my small apartment has just been enormous), masak meal prep, doing laundry, ngerjain PR kelas Bahasa Arab, dan catching up dengan video-video dan self-study untuk kelas Bahasa Jerman, dan nulis blog ini, sebelum nanti sore berencana mau lari sore, dan malam mau video call sama Mamah. 

Huaaah.. Nulis blog lagi? Udah lama banget aku gak nge-blog. Just like everybody else, aku dan kalian yang tahun ~2007-2015 pada rajin ngeblog, dan menuliskan isi hati dan pikiran kita, seperti terkikis oleh kehadiran Instagram ditahun 2010 dan mulai booming diawal 2012, kayaknya orang-orang sampe sekarang masih main instagram, aku sendiri sudah lama retired dari social media, dan cuma ngecek Facebook sesekali untuk tahu whats going on with the world biar gak ketinggalan berita, yah seminggu sekali scroll Facebook 5-10 minutes gak hamrful sih. Balik lagi ke blog, aku sendiri sejak pindah ke US udah jarang nge-blog, mungkin karena kesibukan sekolah, riset, hobi, pekerjaan dan tanggung jawab yang lain. Atau karena nge-blog udah bukan 'a thing' lagi in this era. Entahlah... 

Tapi beberapa bulan belakangan ini, khususnya pas Agustus lalu, aku kangen banget buat baca satu blog post aku yang aku tulis sekitar tahun 2012 silam dimana aku menuliskan seberapa waktu kecil aku ingin sekali ulang tahun. Entah karena lagi melo ditengah-tengah hutan dan trail Kamikochi seorang diri (heyaa, banyak sih trekkers lain yang gak aku kenal jadi technically gak sendirian haha), aku Agustus lalu habis trekking Kamikochi dan balik menapaki Fuji untuk mengetest apa aku bisa "put my ego aside" buat gak ambi trekking the mountain dan cuma trekking trail sekitaran Kamikochi ajah sekitar 10-13Km per day (for 3 days), 4-6km for when I arrived and returned, dan gak push buat summit Fuji dan cuma naik sampe Station 7 dan turun lagi ke Station 5, meskipun pas sampe Hut liat trekkers yang lain jiwa-jiwa dan ambisi trekking the mountain aku meronta-ronta dan mikir, "klo aku harus push ke summit bareng mereka bisa kok" tapi that was not the point because I knew what could Mt. Fuji summit do to me. I summited it three years ago anyway, dan this time was not for that. 

Ternyata, putting ego aside sesusah itu. MasyaAllah. Tapi ketika aku without feeling ashamed turun lagi dengan rute yang sama (rute orang yang gak summit, karena klo summit turunnya bukan jalur ini melainkan jalur turun hehe) dan aku tetap cheering dan greeting trekkers lain yang naik, aku senang. Dan ketika aku sampe balik di Station 5, dan hangout di restaurant sambil lunch, sambil baca Kindle, dan nulis journaling, dan just being in place (btw, di salah satu resto yang two stories di Station 5 ada menu Halal lho selain menu vegetarian, yeay! tiga tahun lalu pas kesana belum ada menu halal soalnya hehe). Jadi pas ternyata bisa melewati "training" agar aku bisa put my ego aside itu, I felt so liberated. Oh ternyata, bisa juga ya aku buat gak nurutin ego aku dan buat aku ini adalah a breakthough finding (heyaaa udah kaya riset haha) bahwasannya aku bisa ternyata buat "menatatar" ego aku dan bukan aku yang dikendalikan oleh egoku. 

Selama summer kamaren aku tertarik banget buat mempelajari ego. Mencoba mengerti dan memahami ego menjadi topik yang menarik yang pelan-pelan aku dalami. Khususnya memahami ego aku sendiri, karena ternyata gak mudah. Tapi, pastinya, mempelajari ego ini aku paham betul bahwasanya ini adalah life-long learning, bukan hanya dengan bisa menatar ego buat enggak nurutin ego summit Fuji terus aku bisa gitu buat menatar ego-ego aku yang lain, tentu saja belum tentu haha, tapi minimal it was a practice, dan it was a training sehingga aku jadi lebih aware ketika dalam konteks dan scene kehidupan yang lain terutama ketika memasuki ranah hablum minannas apakah aku bisa put my ego aside? Karena ini sangat penting. Bisa gak lanjut summit Fuji, itu aku bisa put aside egoku sendiri dan gak ada hubungannya dengan manusia lain, apa ketika egoku masuk diranah hubungan dengan manusia lain dengan kapasitas lain, apa aku bisa untuk tidak menurutinya? 

Nah, ini juga latihan, tapi aku suka latihan baby step, dan grow gradually. Karena menurutku memiliki awareness untuk bisa mendeteksi ketika ego kita udah mulai mendrive kita dan membuat kita even lupa untuk bertanya ke hati kita sendiri, itu penting banget sehingga kita bisa bertanya kembali, ini ego bukan ya? Ini aku lagi nurutin ego aku atau this is actually the right thing I should do? Awareness menurutku penting banget karena nanti root-nya akan balik lagi ke niyyah (intention) kita, apa intention dan niat kita melakukan certain things? To follow your ego, or its actually for Him and because of you want His blessing (ridha-nya Allah)? Karena kita belajar dari histori hidup kita sendiri, perbedaannya dan jaraknya antara nurutin ego dan mencoba mencari ridha-nya Allah itu tipis banget, setipis niat dan intensi kita.   

Sebagai manusia, kita tuh fitrahnya memang punya ego. Dan kadang, most of the time, ego kita itu tidak bisa dikontrol dan diatur, dan kadang, kita secara tidak sadar malah nurutin ego dan lupa hati kita sendiri, sebenarnya hati kita mau apa? Diri kita mau apa? Kadang kita tuh gak kenal diri kita sendiri karena ego kita kegedean. Tapi sedihnya, kita tuh gak sadar, klo kita tuh lagi dikendalikan sama ego kita sendiri. Terus, pertanyaannya kenapa Fik kok lu mau belajar buat "putting ego aside" ajah sampe harus ke Kamikochi dan Fuji segala? Kan costly banget. Yeah, memang sometimes memperlajari diri kita sendiri itu sama costly-nya dengan belajar other skills yang kita pengen master. Sama ajah kaya kita ikutan training skill-skill tertentu untuk pendidikan dan urusan duniawi lainnya. Mahal kan? Sama ajah kaya kita ikutan workshop, kelas intensif untuk ambil specific certificate, dan lain-lain. It will cost us, klo gak uang ya waktu, dan kebanyakan ya keduanya. Tapi buat aku, selama niat kita untuk meng-improve diri kita, dan "working on ourselves" baik untuk urusan dunia dan Hereafter, yah kenapa enggak. Untuk hidup yang lebih baik dan tenang, dan mencapai ridha-Nya Allah. Dan ya, just for Him (and of course for ourselves juga). 

Beberapa hari lalu ini baru beres baca buku Reclaiming Your Heart karyanya Ustadhah Yasmin Mogahed. Minggu-minggu lagi mendalami kitab Kīmīyā-yi Sa'ādat (The Alchemy of Happiness) karya-nya salah satu scholar favorite aku, Abū Ḥāmid Muḥammad ibn Muḥammad al-Ghazālī (shortly Imam al-Ghazali),  dan sedang pelan-pelan mendalami buku Purification of the Heart yang ditulis oleh Imām Mawlūd’s Maṭharat al-Qulūb yang diterjemahkan ke English (yah pastilah aku baca kitab-kitab ini yang terjemahan English ya hehe apalah kemampuan Bahasa Arab aku mah masih di level Novice Middle haha--- impian dan cita-citanya sih memang pengen bisa baca kitab-kitabnya Imam al-Ghazali dan Ibn Qayyim Al-Jawziyyah text aslinya di Bahasa Arab, tapi belum dilevel itu ya bun.. sabar dulu.. baby steps.. gakpapa aamiinin dan doain dulu ajah karena impian hari bisa jadi kenyataan 5-10 tahun kedepan haha anyway) oleh Shaykh Hamza Yusuf. Nah, dari tiga buku ini aku banyak belajar mengenai hati dan ego. 

Meskipun buku Ustadhah Yasmin Mogahed centers around, hanya "boleh" ada Allah dihati kita and not anything else, dan dibuku Imam Mawlūd fokusnya Purification of the Heart atau memurnikah hati, karena fokus belajar spiritual aku fall season ini adalah purification the heart (dan masyaAllah, susah sekali bun, nerapin dalam kehidupan yang fana ini, sungguh susah sampe aku create some methodologies untuk help myself menjaga hati, guart my heart dalam daily practical senses tapi again pelan-pelan dan baby steps~~~ mohon doanya ajah ya hehe), dibuku purification heart inipun aku banyak bisa mengkaitkan argumentnya Imām Mawlūd dengan topik yang aku pelajari summer lalu yaitu mengenai putting my ego aside. Dan ketika aku balikin lagi kediriku, kaya sejauh mana sih kita tuh kenal diri kita sendiri, kenal hati kita, kenal ego kita, coba deh, duduk sejenak dan bertanya kediri sendiri, sejauh apa sih kita kenal diri sendiri? Jawabannya mungkin belum sebegitunya, kita hanya "merasa" ajah "sepertinya" kita kenal diri kita tapi kenyataanya tidak. Tidak sebegitunya. Dari kitab Kīmīyā-yi Sa'ādat ada quotenya Imam al-Ghazali yang aku suka banget dan aku yang waktu itu baca kitab ini di Kindle aku sambil jalan dari parking lot kegedung kantorku, aku langsung berenti sejenak. Kaya, ini resonate banget. Quote beliau pendek, tetapi maknanya dalam sekali.

He who knows himself knows his God. -- Imam al-Ghazālī

Buat aku seperti, wow! Klo aku pengen tahu Allah, pengen Allah terus jaga aku, yah meskipun aku tahu Allah terus jaga aku, yah aku harus "tahu" Allah. Tapi klo aku ajah gak tahu dan gak kenal diriku sendiri, gimana aku bisa kenal Allah? Duh~~~ jadi makin semangat untuk terus mengenal Allah, dan salah satu caranya ya berusaha makin dekat sama Allah. Gimana caranya mau kenal klo gak dekat ya kan? Dan gimana caranya bisa dekat klo gak kenal. Jadi I think it is a two-way thing that I want in terms of my relationship dengan Allah. 

Jadi Fik.. balik lagi ke your effort untuk melatih dan mentraining putting your ego aside, jadi latihannya harus banget ke Kamikochi dan Fuji? Hahaha tentu saja tidak! Kamikochi dan Fuji adalah metaphor yang bisa aku materialize karena salah satu hobi aku adalah trekking dan hiking, dan aku bisa beneran chase dan pursue aspirasi trekking ini to the core (hello ego, are you there?haha duh kadang malu sama Allah segitunya aku tuh dulu-dulu, aku ikutin banget egoku itu bahkan aku ikutin sampe ke Amerika! haha aduh malu, klo inget itu pas tahajjud suka nangis cuma karena malu sama Allah haha... maafkan Fik ya Allah), seperti pas tahun 2024 aku trekking empat hari empat malam di Inca Trail, Peru segala ego dibabat haha tapi in the end aku bertanya, were you really following your heart or your ego? I did not even know what I was doing! Ketika aku even gak tahu what I was doing, I knew that I followed my ego. 

Ketika aku training buat pursue Full Marathon (FM), dan udah dua kali training didua seasons yang berbeda untuk Jackson Marathon dan BCS Marathon dan total training per FM adalah 4 bulan (for those of you who know FM, you know how demanding an FM can be). Dan ternyata Allah belum ridha aku buat beneran pursue FM races ini (mungkin biar aku gak bangga sama dirikku sendiri, biar aku keep grounded) karena weekend before Jackson FM aku harus ke Texas untuk job talk dan campus visit di tempat kerja aku yang sekarang (of course aku bailout Jackson FM untuk a dream job) dan ketika aku harus nangis bailout BCS FM karena I was very sick after South Carolina SEDAAG conference dan fieldwork di Mississippi, aku tumbang dan jangankan mau lari FM, nafas ajah aku engap, badanku panas dan lemas banget. Aku severe flu dan sakit ajah udah gak bisa ngapa-ngapain. Aku tetap ke City Hall lemas-lemas ambil BCS FM bib, sampe rumah nangis karena bitter. Aku latihan FM sepanjang summer 2024 all the way ke Fall, lalarian berpuluh-puluh miles di panasnya College Station dan aku sampe terus-terus-an sun burn sampe aku hampir pergi ke dokter. 

Sebegitunya. Hikss... Klo ingat itu.. Cuma sekarang mah aku udah gak bitter sih hehe karena lesson-nya ternyata quite deep.. Dan belakangan aku tahu kenapa Allah gak ridha aku buat lari di dua FM races itu meskipun aku udah training total 8 bulan. Ya sederhana, karena those two FMs itu were me following my ego. Me, wanted to prove to myself that I could get better results after my first FM di 94F heat in Tupelo FM. Me, who just following my ego and did not even know I was following my ego. Me, who did not even know what I was doing. Haha jadi inget lagi di buku Purification the Heart Imam Mawlūd bilang, sebenernya yang perlu kita master didalam hidup ini bukan siapa-siapa, tapi diri kita sendiri. Huaah! Berasa ditabok aku tuh. Haha~~~

Jadi, pergi ke Kamikochi dan Fuji mah sebenernya adalah summer vacation tahun 2026. Awalnya gak berencana pegi kemana-kemana Summer kemaren, no expedition, no big summer trekking, no big spending ooops (haha karena awalnya mau ambil KPR akhir tahun 2026 ini tapi aku batalkan, gakpapalah.. dont follow ego, haha nanti akan ada saatnya untuk rumah, Allah udah siapkan inshaAllah <3). Awalnya cuma mau di College Station ajah belajar dan bekerja, dan cuma akan ke California buat bantuin Ibu Rina for her big event in June, dan Juli-nya attend the International Medical Geography Symposium (IMGS) di Toronto, Kanada. Tapi pas akhir Mei, entah kenapa malah nemu tiket murah haha tapi memang buat end of August dimana liburan anak-anak sekolah udah selesai dan karena aku gak ngajar semester Fall 2026 ini jadi aku gak harus ada dikampus for the first week of the semester. Jadi aku putuskan, yaudah deh pergi ajah summer vacation daripada enggak. Tapi karena tiket promo ini untuk pertengahan to akhir Agustus jadi pas banget sama ultah aku hehe.. well, honestly aku udah gak celebrate ultah, cuma klo ada pas mark aku lagi in a deep nature gitu pas masuk ke umur baru biasanya contemplating, reflecting, dan journalingnya lebih deep hehe in fact dari trip Kamikochi dan Fuji aku nulis 25 halaman handwriting di Travel Journal aku sampe aku ingat pas aku nulis di cafe-cafe, di coffee shops sekitaran Fuji dan Kamikochi, aku sampe diliatin orang karena di era AI gini masih ada orang (aku) yang nulis tangan dibuku pake pulpen, berhalaman-halaman hahaha ~~~ 

Anyway, klo memang pergi ke suatu tempat bisa membuat kamu menemukan spiritual journey kamu, yah kenapa enggak? Tapi pastinya budgetingnya rapih, tertata, dan memang sudah menabung untuk perjalanan tersebut, jadi tidak harmful ke keuangan dan cash flow kamu. Buat aku, selain bisa berlatih buat putting my ego aside, Kamukochi dan Mt. Fuji ngajarin aku bahwa aku juga bisa tetap jaga tahajjud saat bermalam di mountain lodge dan mountain hut. Sesuatu yang seumur hidup aku gak pernah bayangkan sebelumnya. Again, pergilah, berjalanlah dibumi-Nya Allah, karena mungkin dengan begitu kita menjadi makin mengenal Allah, dan makin mengenal diri kita sendiri. Aamiin, Allah Maha Tahu dan Maha Segala-nya~~~ 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

College Station October 24, 2026 at 12.54pm waiting for Dhuhr - sambil nuggu dryer yang lagi ngeringin pakaian, pot yang ngerebus chicken breast, container yang lagi marinasi chicken wings, rice cooker yang lagi menanak nasi kuning, dan aku yang melirik nge-check Robo yang lagi istirahat karena cape habis bersihin rumah. This is how impressed I am with a woman (any woman really!) who can do multiple things at once, including putting her thoughts into words, in her Blog. Mari nge-blog lagi biar kemampuan menulis terutama menulis dalam Bahasa Indonesia tidak terkikis  :)



Comments

Popular Posts