Rindu

Bicaralah.. bulan sekujur tubuhnya berdiri bukan dengan kehampaan malam. Kau biarkannya tertelan dalam-dalam. Aku tahu kau berharap kehangatan fajar menyengat, bukan menggerogoti. Jika harus dia menyampaikan berkali-kali bahwa rindu itu tidak pernah ada rumusnya, tidak pernah ada aturan perhitungannya kapan dia harus menyerang. Ketahuilah, ketidakadilan itu seringkali menghampiri anak manusia. Saat kau diserang makhluk bernama rindu, maka sekejap kau tahu bahwa orang yang mungkin kau inginkan bersama-sama dihampiri oleh makluk tersebut sedang tidak terpilih. Begitupun sebaliknya, dan saat itu kau merasakan sesak menyelimuti dadamu. Kian dalam. [Senja terpotong dua di secangkir Cappuccino, Chapter #4]

Comments

Popular Posts