Lalu Kapankah Waktu Yang Tepat?
Malam ini entah kenapa saya mengurung diri dikantor, sendirian. Saya tidak berniat bekerja malam ini sebetulnya. Kehidupan sehari-hari sebagai mahasiswa PhD ya memang seperti ini. Sebagian besar waktu dihabiskan di office. Habis nge-gym sore, shower, saya kembali ke office dan makan malampun di office. Saya mem-pack breakfast, lunch, dan dinner dan membawanya ke office. Saya baru akan kembali ke rumah jam 9 malam, lalu tidur jam 10an. Jam 8 pagi sudah di office lagi setelah lari pagi. Begitu, dan seperti itulah kehidupan per-PhD-an ini.
Malam ini, saya ingin istirahat dan memberikan sedikit waktu untuk diri saya, relaxed diakhir pekan. Dan ini weekend anyway. Awalnya saya mengajak Widya dan Maryam untuk menonton film "Habibie dan Ainun" namun sayangnya bukan waktu yang tepat untuk Widya dan Maryam untuk malam minggu ini menonton bersama saya.
Saya lalu makan malam dan karena memang saya tidak berniat untuk bekerja malam minggu ini, saya akhirnya memutuskan untuk menonton Habibie dan Ainun sendiri saja didesktop Dell besar saya dikantor. Namun, saya ingat bahwa saya belum pernah menonton Ayat-ayat Cinta edisi baru. Pertanyaannya, lho kenapa Fik tiba-tiba ingin sekali menonton Habibie dan Ainun? Ini awalnya pertanyaan Widya. Karena baginya ini sangat tiba-tiba dan tidak biasa. Hampir tidak pernah Fik menonton film Indonesia apalagi film-film model melo-melo begini. Fik paling-paling, kalau tidak Kim's Convenience, Boss Baby (in Business), Malam Minggu Miko, yang lucu-lucu yang tidak require berpikir. Karena energy berpikir saya sudah saya alokasikan untuk disertasi dan kehidupan PhD.
Lalu saya secara jujur dan gamblang menyampaikan kepada Widya bahwa alasan saya tiba-tiba ingin menonton film Indonesia adalah karena saya beberapa hari terakhir ini sangat home-sick. Jujur hampir tidak pernah saya merasa home-sick. Mungkin selama hampir tiga tahun saya tinggal di Amerika, saya hanya merasa kangen Indonesia beberapa kali saja. Kali ini sangat berbeda, mungkin karena besok lusa sudah Ramadan dan saya teringat akan Ramadan-ramadan saya saat saya kecil dulu di Kampung bersama Bapak Oyo dan Mak Oyo (Kakek dan Nenek saya). Semua memori Ramadan masa kecil tiba-tiba teringat, cerita itu seperti film yang dipertontonkan dihadapan saya. Biasanya, dipagi hari saya ikut Mak Oyo ke kebun, lalu saya mengumpulkan jambu, pepaya, dan buah-buahan lainnya untuk berbuka. Saat itu saya masih duduk di bangku kelas dua sekolah dasar. Waktu kelas dua saya hanya bepuasa sampai Jam 4 sore. Jadi saat Mak Oyo selesai masak, saya sudah bisa berbuka. Baru setelah kelas 3 SD saya full puasa hingga maghrib.
Menu-menu buka puasa kesukaan Bapak Oyo seperti setup roti dan apem putih dicocol sirup marjan pandan tiba-tiba serta merta hadir didalam bayangan saya. Saat itu saya sedang menyelesaikan rough draft proposal disertasi saya, dan semua seperti ter-play begitu saja. Fix, saya kangen Bapak Oyo dan Mak Oyo dan suasana Ramadan saat saya kecil bersama mereka. Tetapi, saya sampaikan kepada Allah Swt bahwasanya saya sudah ikhlas bahwa kehidupan saya sudah tidak seperti dulu lagi. Saya sangat menyayangin Bapak Oyo dan Mak Oyo, dan akan selalu menyayangi dan mencintai mereka sampai kapapun. Mereka selalu ada dihati saya. Dan tidak akan pernah tergantikan oleh apapun.
Kembali kepada film yang saya tonton, saya tidak jadi menonton Habibie dan Ainun, instead saya menonton Ayat-ayat Cinta (versi yang baru) karena saat di SMA atau kuliah S1 saya lupa, sepertinya saya pernah menonton Ayat-ayat Cinta juga dan sepertinya sedikit berbeda. Anyway, saya tidak ingin mengulas mengenai film Ayat-ayat Cinta, kalian pasti sudah menontonnya dan sudah tahu ceritanya seperti apa. Bagi saya, bagaimanapun film itu pasti selalu ada sedikit saja take-home message-nya. Kali ini, dari film "cinta-cinta-an" model Ayat-ayat Cinta (yang saya dengar pernah dihujat netijen +62), saya mempunyai take-home message yang sangat mendalam, yaitu, Ikhlas. Siapapun pasti setuju bahwasannya, ikhlas itu sangat mudah sekali diucapkan, namun implementasinya kadang seperti abstrak dan banyak orang, termasuk saya sendiri mungkin hanya bebarapa kali saya mempunyai pengalaman merasakan ikhlas yang sesungguhnya. Jujur, dalam hidup saya mungkin saya baru dua kali experienced dengan fenomena bernama keikhlasan.
Menurut saya, konsep ikhlas ini sangat menarik. Karena kerap kali kita berkata, "ikhlas aja..." tetapi kita mungkin tidak benar-benar "merasakan" keikhlasan itu sendiri. Bahkan, saya kemudian refleksi, apa saya benar-benar sudah ikhlas menjalani kehidupan ini? Tidak hanya kehidupan per-PhD-an, tetapi kehidupan ini in general. Lalu, setelah saya berpikir dan bertanya kepada diri saya sendiri, dan tentu saja memohon maaf kepada Allah Swt (karena mungkin saya belum sepenuhnya ikhlas), saya lalu tertarik mengkaitkan konsep keikhlasan dengan konsep waktu, lebih tepatnya kapankah waktu yang tepat untuk kita mendapatkan, atau ditakdirkan untuk menjalani dan mendapatkan apa yang kita inginkan dan kita niatkan(?) Jelas kita tidak pernah tahu, kita hanya dapat memproyeksikan dan merencanakan dengan penuh kesungguhan dan kerja keras, tetapi selalu ada faktor "destiny", whether its meant to be or not. Sebagai seorang practicing Muslim dan implementing the Sunnah saya percaya bahwa keputusan Allah Swt selalu lebih baik dari keputusan dan rencana saya sendiri. Jadi setelah saya ikhtiar, saya selalu mengembalikan kepada-Nya. Buat saya Tawakull is always the key.
Ketertarikan saya menghubungkan Ikhlas dengan Waktu Yang Tepat tadi tidak hanya karena kedua hal ini mempunyai relationship yang positive dan significant (astaga kok jadi statisic gini haha), tetapi lebih jauh dari itu. Pernah mungkin kita memohon kepada Allah Swt bahwasanya kita menginginkan X, namun kita tak kunjung mendapatkannya. Tetapi, dua atau tiga tahun kemudian hal tersebut serta merta menjadi milik kita. Atau kita sangat ingin mengunjungi suatu tempat (ini example dari saya karena beberapa daftar impian saya adalah mengunjungi tempat-tempat yang saya belum pernah kunjungi-- anaknya emang geography banget kan haha a geographer by heart haha), tetapi entah kenapa kita tidak kunjung diberikan kesempatan untuk mengunjunginya. Tetapi beberapa tahun kemudian, waktu yang tepat itu seperti menjadi milik kita. Misalnya, saya desperately ingin mengunjungin London saat tahun 2012, tetapi saya gagal dan tidak mendapatkan kesempatan untuk mengunjunginya. Namun siapa sangka 6 tahun kemudian, di tahun 2018, saya mendapatkan travel grant untuk mempresentasikan penelitian saya di salah satu konferensi di London. Saya pergi ke London dari Amerika, saya berkesempatan mengunjungin beberapa teman-teman saya dikota-kota lain, dan yang terpenting academic reason to visit London, dan I got funding! *sweet. Mungkin jika saya pergi ke London tahun 2012, pengalamannya jelas akan sangat berbeda. Begitu juga dengan beberapa tempat yang lain. Ini adalah contoh bahwasanya, keterbatasan kita untuk menembus masa depan dan memperdiski masa depan hanyalah zero. We just do not know, and we know nothing is absolute. Kita juga tidak pernah mampu untuk bargain.
Selain mengunjungin suatu tempat, saya pikir mendapatkan kesempatanpun tidak jauh berbeda. Misalnya, saat saya desperately ingin bersekolah ke Amerika ditahun 2015. Saya tidak mendapatkan satu Letter of Acceptance-pun dari sekolah yang saya daftar. Saya menunda satu tahun, mendaftar kembali sekolah di tahun 2015 untuk intake 2016, lalu saya mendapatkan dua sekolah yang sangat prominent di bidang yang ingin saya dalami. Dan saya memutuskan untuk mengambil sekolah saya saat ini. Siapa sangka ternyata disekolah ini saya bertemu dengan professor yang membantu saya lebih meruncingkan keinginan dan rencana masa depan saya yang selama ini hanya berlabuh dikepala saya, dan siapa sangka ternyata disekolah inilah saya dapat melanjutkan Ph.D right after I graduated from my master. Mungkin kalau saya tidak disekolah saat ini, saya belum tentu mendapatkan kesempatan yang sama.
Sehingga lesson learned saya dari refleksi saya malam ini adalah, jika kita belum diberikan apa yang kita inginkan (misalnya untuk diumur-umur saya saat ini, mungkin jodoh) mungkin memang belum saatnya. Mungkin memang Allah Swt menginginkan kita menjalani kehidupan yang lain dulu. Atau mungkin memang belum waktu yang tepat untuk kita untuk mendapatkan jodoh misalnya. Dan ingat, Allah Swt tidak akan pernah salah dalam menuliskan takdir seseorang. Lalu kapan kah waktu yang tepat? Kita tidak pernah tahu. Tetapi Allah Swt tahu, Dia sudah mencatatnya dengan sempurna, Dia hanya perlu mengeksekusi satu per satu dari apa yang Dia sudah catat untuk kita. Waktu yang tepat tidak akan pernah tertukar, dan bagi Allah Swt tidak akan pernah salah. Sekali lagi, untuk kita, yang dapat kita lalukan adalah terus berusaha untuk mendapatkan pengalaman merasakan keikhlasan lagi dalam hidup ini. Dan berusaha agar keikhlasan menjadi hal yang "biasa" dan menjadi teman baik kita. Karena dengan ikhlaslah, kita akan mudah menerima waktu yang tepat yang Allah Swt putuskan untuk kita.
Selamat malam, dan selamat berakhir pekan.
Urbana-Champaign, 5 Mei 2019, 00.15AM
Fik


Comments
Post a Comment