Ma, selamat ulang tahun...
“Aku sayang Mama, selamat ulang tahun ya Ma, sekali lagi.” Kira-kira kalimat inilah yang menutup dua jam percakapan saya dengannya malam ini. Perempuan hebat yang sangat saya kagumi. Perempuan super keren yang selalu menjadi panutan. Tidak, tentu saja tidak semua hal yang kami pikirkan sama, tetapi kami selalu sama untuk hal-hal penting. Kami selalu sama untuk hal-hal yang berkaitan dengan komitmen, kepercayaan, dan tentu saja kami berdua setuju bahwa apa yang kami miliki tidak sepenuhnya untuk kami.
Mama bukanlah Ibu-ibu berpendidikan tinggi, bukan pula seseorang yang mempunyai beragam gelar akademik dan pekerjaan. Mama hanyalah seorang Ibu yang tinggal di kampung pedalaman Banten yang tidak pernah satu pemikiran dengan para tetangganya. Disaat semua Ibu-ibu lain mengirimkan anaknya ke kota untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga (aka pembantu rumah tangga), Mama tidak melakukan itu. Mama memang bukanlah seorang sarjana, apalagi master atau PhD, tetapi bagi saya Mama adalah professor kehidupan. Beliau sangat lihai untuk mengelola hidup yang tidak pernah mudah ini.Tadi sore saya berjalan dari kelas menuju sport center, tiba-tiba saya teringat betapa Mama selalu mendukung setiap impian saya. Meskipun awalnya sangat resisten, misalnya saat saya berniat untuk sekolah master. Mama sempat tidak mengizinkan saya, Mama dengan segala keterbatasan pengetahuannya berkata, “sudahlah Neng, pekerjaan kamu sekarang sudah sangat bagus. Penghasilan kamu juga sudah sangat baik. Lebih baik kamu menikah dan mempunyai keluarga.” Saya butuh waktu satu tahun untuk bisa meyakinkan Mama bahwa seretak apapun persiapan dan sebegitu tidak sempurnanya usaha saya, pendidikan tinggi itu milik semua orang yang menginginkan. Mama kemudian terenyuh dengan kegigihan saya. Setelah satu tahun saya meyakinkan beliau, beliau menjadi supporter nomor satu saya. Saat saya menyampaikan niatan untuk mendaftar sekolah PhD, Mama tidak resisten lagi. Beliau mendukung sepenuhnya, meskipun jauh didalam pikirannya sana beliau mungkin tidak begitu mengerti apa yang saya kerjakan. Saya selalu berbicara dengan bahasa penuh kesederhanaan yang mampu beliau pahami.
Begitu pula saat saya berkata kepada beliau bahwa saya akan berkuliah apapun yang terjadi. Sejak masih dibangku SMA dahulu saya selalu berkata-kata, “Ma, aku kuliah ya. Mama doakan aku semoga aku bisa berkuliah di UI.” Mama, lagi-lagi dengan segala keterbatasan yang beliau miliki, tidak pernah sedikitpun berkata “jangan” bahkan beliau rela melakukan banyak hal untuk saya. Saat itu, saya sudah mengantongi beasiswa penuh untuk bersekolah di FKM UI, tetapi nasib berkata lain. Entah karena terlalu confident akan lulus SPMB di FKM UI, entah karena saat itu FKM terlalu banyak peminat, atau entah karena memang FKM bukan tempat untuk saya. Saya tidak lolos FKM, beasiswa saya hangus dan saya harus memikirkan pendanaan yang lain. Mama rela untuk datang ke Depok untuk memenuhi interview kampus agat saya mendapatkan free uang pangkal. Mama rela menghabiskan dua minggu waktunya untuk berjalan sana-sini mencari pinjaman uang kepada saudaranya, meskipun akhirnya tidak dapat.
Saya tidak akan pernah lupa, kami menaiki angkot nomor 19 Kampung Rambutan - Depok. Saya sedang OBM (Orientasi Belajar Mahasiswa) di Fakultas Teknik. Pagi - pagi saya antar Mama ke FMIPA, lalu meninggalkan beliau untuk OBM. Mama menunggu panggilan interviewnya, berjam-jam lamanya. Lalu saya kembali ke FMIPA saat istirahat OBM, bertemu Mama, dan mengajaknya makan siang. Lalu saya tinggalkan kembali Mama di FMIPA dan saya kembali ke FT untuk melanjutkan OBM. Saya masih ingat sekali, saya tergopoh-gopoh sampai di Gedung Dekanat FMIPA seselesainya OBM. Saya tidak temukan Mama disana, “Mama kemana? Kalau Mama kenapa-kenapa gimana?” batin saya panik. 2007 silam Mama tidak mempunyai handphone, saya tidak bisa menelponnya. Kemudian ada seorang Ibu yang seperti mengenali saya karena saat saya makan siang ke FMIPA beliau mengobrol dengan Mama. Beliau baru saja selesai interviewnya. “Nak, cari Mama-nya ya? Tadi Mama titip pesan, kalau kamu sampai disini Mama pergi duluan ke rumah saudaranya di Depok.”
Rasa syukur bahwa Mama baik-baik saja dan ternyata mengunjungi saudaranya membuat saya lega. Saya membukan note kecil berisikan alamat saudaranya Mama di Depok yang pernah saya catat. Saya susuli beliau. Saya tahu beliau menghabiskan masa mudanya di Depok, tetapi itu 1980-an yang tentu saja sudah jauh berbeda dengan 2007. Saya bertemu Mama dirumah saudaranya dan kami membuat keputusan besar. Mama sudah berminggu-minggu di Jakarta dan selalu berakhir dengan kecewa. Paman saya berkata, “sudahlah, kalau tidak punya biaya suru kerja ajah si Fik. Dia pinter kok, pasti dapet kerja cepet.” Tetapi Mama tahu, yang saya mau adalah sekolah.
Mama tahu betapa saya sangat memimpikan dapat berkuliah di UI. Mama tahu betapa saya bekerja keras siang-malam-subuh untuk menembus SPMB. Mama tahu betapa banyak kalimat permohonannya kepada Yang Maha Kuasa agar saya dapat diterima di UI. Mama tahu betapa, I wanted UI, badly. Mama tidak sedikitpun memperkecil mimpi saya, meskipun kami berdua tidak tahu bagaimana pertolongan Yang Maha Kuasa akan datang. Saat Paman saya menyuruh saya memundurkan diri dari usaha-usaha saya, Mama berkata, “Neng, maafkan segala ucapan Mamang kamu ya. Jika beliau tidak mendukung, Mama tidak akan sedikitpun mengecilkannya.”
Malam itu, kami berdua membuat keputusan besar. “Ma, Mama sudah terlalu lama di Jakarta. Urusan Mama di Kampung banyak yang terbengkalai. Mama pulang ajah ya. Pipih belum tahu akan dapat uang darimana. Tapi, Pipih yakin, ketika Pipih diberikan kesempatan untuk menjalani kehidupan di dunia ini, ketika itupula Pipih yakin pertolongan Allah itu nyata adanya.” Saya tidak kuat menahan airmata, saya peluk Mama. Kami menangis bersama. Kemudian Mama meninggalkan saya dengan tiga lembar uang seratus ribuan. Saya kembali ke Depok dan memulai kehidupan saya sebagai mahasiswa. Life was not easy. Tetapi, hidup itu seperti, jika saya harus mendeskripsikan hidup, hidup itu sangat unik. Hidup memberikan saya bergam kesulitan-kesulitan, ketidakadilan-ketidakadilan. Tetapi, hidup juga memberikan saya beragam hal tak terduga yang selalu membuat saya merasa tidak pantas mendapatkannya.
Hidup itu bagaikan kesempatan, kesempatan untuk menjalani dan merasakan kesulitan, dan kesempatan untuk merasakan yang baik yang tidak pernah terduga.
Mama, menjalani hidup sebagai anak pertamanya Mama, memberikan saya beragam kekuatan yang saya pelajari dari beliau. Kemandirian, komitmen, kepercayaan, kreatifitas, kerja keras, Mama, adalah jagoan untuk semua itu. Mama sangat pekerja keras, saya tidak ada apa-apanya dibandingkan beliau. Saya selalu berkata, “sudahlah Mah, toh uang yang Pipih kirim bulanan sudah lebih dari cukup. Mama tidak perlu menjalani usaha Mama dirumah. Mama banyak istirahat dan bersenang-senang saja.” Beliau menjawab, “Mama butuh kegiatan, Mama lebih bahagia jika Mama sibuk.” (ops, dalam hati, gue banget. Lebih senang sibuk daripada santai). Dirumah Mama sibuk, Mama mempunyai usaha kecil-kecilan.
Dan yang membuat saya selalu bangga dengan Mama adalah, Mama sangat berbeda dengan Ibu-ibu dikampung. Mama tidak pernah menuntut apapun dari saya. Hal ini yang membuat saya begitu senang bekerja keras untuknya. Selain beliau the one and only person yang saya punya, beliau juga tidak pernah menuntut. Segala yang saya berikan, yang saya belikan, yang saya kirimkan selalu membuatnya bahagia dan beliau selalu senang dengan semuanya. Mama, terima kasih untuk tidak pernah menuntut apapun. Terima kasih untuk selalu bahagia dengan segala hal yang Pipih kasih.
Hari ini Mama berulang tahun, Mama mungkin tidak sebegitu ingatnya dengan ulangtahun beliau. Tetapi saya tidak perlu menulis kalender untuk mengingatnya, saya selalu ingin menjadi orang pertama yang menelpon atau ketika saya di Indonesia mengajaknya makan malam dan merayakannya bersama. Mama, tidak pernah tidak menangis jika hal itu terjadi. Tadi, saat kami bertelpon (di Indonesia sudah tanggal 2 Mei) pagi-pagi Mama menangis karena terharu dengan doa-doa dan kalimat-kalimat saya. Mama, terima kasih, seperti apapun yang saya ucapkan tidak akan pernah mampu menandingi keajaiban doa-doa Mama untuk saya.
Mama, terima kasih untuk segala yang Mama lakukan untuk Pipih. Terima kasih atas segala doa, atas segala permohonan yang selalu Mama panjatkan untuk segala kebaikan untuk Pipih.
Mama, terima kasih untuk tidak pernah melarang Pipih bersekolah. Terima kasih untuk tidak pernah menyuruh Pipih bekerja ke Kota saat Pipih lulus SD. Terima kasih untuk percaya akan semua impian Pipih.
Mama, terima kasih untuk selalu menjadi orang nomor satu yang mendukung segala hal yang Pipih kerjakan.
Mama, mohon maaf jika dalam hidup Pipih, Pipih pernah satu kali kesal sama Mama. Mohon maaf jika Mama pernah merasa bersalah yang begitu dalam kepada Pipih. Pipih sudah jauh lebih lama memaafkan Mama.
Mama, mohon maaf jika Mama merasa cemburu karena merasa Pipih jauh lebih sayang kepada Mak Oyo dan Bapak Oyo--they were your parents either.
Mama, terima kasih untuk selalu mempunyai feeling yang kuat ketika Pipih kangen Mama.
Mama, terima kasih untuk segala yang Pipih tidak dapat sebutkan satu persatu. Terima kasih untuk selalu menginspirasi, terima kasih untuk selalu menjadi role model, terima kasih untuk segala supports, kasih sayang, dan rasa rindu. Sampai bertemu Desember nanti Ma.
I love you.
CRCE Urbana, 1 Mei, 2018
Pipih
x


Comments
Post a Comment