Skip to main content

Posts

Senja terpotong dua di secangkir cappuccino #1

Hari itu seorang perempuan muda mengirimiku pesan. Dia menawarkan diri untuk sekedar berbicara sepatah kata denganku dan mengiming-imingiku secangkir cappuccino. Kau tahu, sejak kapan aku dapat menolaknya? Beberapa minggu setelah pesan itu aku terima, kami bertemu. Dia tidak berkata banyak. Benar-benar sesuai janjinya, dia hanya berkata "Hai" lalu pergi. Aku bingung dibuatnya, bagaimana bisa seseorang yang meminta bertemu denganku berminggu-minggu lamanya, setelah bertemu hanya berkata "Hai". Aku tidak ingin bertanya. Dia pergi, lalu perlahan aku menyeruput cappuccino itu. Pelan-pelanlah meminum sesuatu yang berasap, karena jika kau terburu-buru maka kau tidak akan menikmati setiap sentuhan asapnya. Tapi jangan kau biarkan ia dingin, karena kenikmatannya akan hilang. Minumlah, perlahan-lahan. Aku tidak bertanya apapun kepadanya keesokan harinya. Dia seperti menghilang, tanpa kata. *** Hari lain perempuan itu kembali mengajaku berbicara. Dia hanya men...

Malam Puisi Depok

Minggu lalu 18 Mei 2014, saya bersama @apriliahartami dengan niat yang mulia akan mengerjalan target essay Seliger kami. Kami main ke @JulietCoffee salah satu coffee shop di Jalan Margonda yang saya suka. Niatnya tentu saja untuk mencari Wifi yang kencang dan menulis aplikasi Seliger kami. Namun, setibanya disana kami sangat tidak bisa menulis karena ternyata sedang ada kumpul-kumpul anak muda Depok dalam komunitas yang bernama #MalamPuisiDepok Dan setelah 10 tahun lebih saya tidak membaca puisi dihadapan orang, saya menjadi sangat terpancing dan akhirnya saya ikut bergabung dengan mereka untuk membacakan puisi saya sendiri. Arggh, ada perasaan lega dan bahagia, karena sejak tragedi puisi pas SMA saya tidak pernah pede untuk membaca puisi lagi dihadapan orang lain. Terima kasih #MalamPuisiDepok  I hope to see you all again :) Fik

Drama

Ibuku pernah berkata padaku bahwa tidak semua yang terjadi itu adalah nyata adanya. Dia bisa benar-benar terjadi, atau sebaliknya bisa jadi dia hanya ilusi. Ibu berkata, kamu tidak perlu untuk yakin sepenuhnya ataupun tidak percaya sama sekali. Aku tertunduk, lesu. Mungkin manusia sekali-kali harus berhenti. Harus beristirahat sejenak. Begitu pikirku. Itu dulu, saat aku tidak tahu bahwa sekalipun kita berjalan, akan ada sungai pemisah jalan, lalu berhenti. Kita tidak akan lupa bahwa akan ada jembatan yang menghubungkan keduanya.  Selain Ibu ada juga orang yang pernah berkata padaku bahwa kita memang harus berhenti. Untuk sesekali mengelap dahaga kita. Dia berkata, “Nak, beristirahatlah barang sejenak. Karena perjalananmu masih panjang.” Aku selalu tertunduk mendengarnya. Mereka ada benarnya. Mungkin kita perlu beristirahat. Untuk sekedar mengelap keringat, atau memimun sedikit air putih. “Namanya juga hidup. Bukannya sudah biasa begitu adanya. Kamu tidak bisa mem...

Ranting Itu

Ranting itu kini patah. Itu bukan salahku, aku mencoba membela diri. Aku tidak pernah meminta ia untuk menuruti maunya angin, aku juga berkata padanya ia harusnya lebih kuat. Tebasan angin bukanlah alasan untuk menjadikannya patah. Ia menatapkanku dengan tatapan nanar, mungkin jika ia bisa ia sudah membunuhku sejak lalu. Sejak ia patah. Sejak itupula ia membenciku dengan makian tak berendus. Lagi-lagi aku katakan padanya, itu bukan salahku. Aku tidak ingin dipersalahankan lagi olehnya. Tapi hari ini ia bercerita lagi padaku, ia patah. Aaah, ranting itu. Hobi sekali patah, pikirku. Mana aku peduli, alih-alih nanti ia menyalahkanku lagi. Tapi nampaknya ia sangat berduka. Aku menoleh sedikit saja untuk melihatnya. Tapi ia menatapku dengan wajah penuh duka. Aku iba. Aku menghampirinya perlahan. Wajahnya, sungguh aku kasihan. Aku hampir tidak percaya, keceriaannya yang dulu ia pamerkan mentah-mentah di hadapaku seperti tersihir oleh keduakaannya yang mendal...

Perjanjian Kita

Ku perhatian ufuk itu perlahan, disana ada jingga yang lama-lama kelabu lalu menghilang. Persis seperti perjanjianku dengannya, perjanjian tidak sengaja yang kemudian "memaksaku" untuk kembali. Aaah, mungkin sudut kaca itu menjadi saksi mati bahwa janji untuk kembali benar adanya, dengan sadar aku berkata. Bahwa, aku akan kembali. Dia masih belum bergeming, bukankah harusnya dia yang mempersiapkan segalanya untuk menyambutku? Menyambut seseorang yang dengan tulus merindukannya, menyelipkan dalam setiap doa disetiap sujud malamnya untuk bertemu. Tapi nampaknya, dia masih tidak bergeming. Jingga itu benar-benar hilang ditelan malam. Lalu, masihkah kau menungguku? Hari itu kami sibuk mengepak semua barang-barang kami yang jumlahnya menjadi berkali-kali lipat jumlah barang yang kami bawa. Packing harus sempurna karena jatah bagasi yang diberikan maskapai Delta Airlines sangat terbatas, 46Kg yang bisa dipartisi menjadi dua bagasi dengan masing-masin...

Bersepeda, Kenalkan Kebiasaan Baik Kepada Turis

Oliver dan Aby bergaya di depan UI-wood Saya, Oliver dan Aby beberapa tahun yang lalu :) Siapa bilang yang namanya adventure itu hanya berlaku saat kamu bepergian jauh? Saat kamu menghabiskan berjam-jam di bis, kereta, pesawat, atau noda transportasi lainnya. Siapa bilang adventure itu hanya saat kamu pergi melintasi anak-anak sungai dan mendaki kaki gunung? Atau saat kamu mengarungi rute-rute ekstrim yang belum dilalui orang banyak. Tidak! Tentu tidak ada batasan kapan perjalanan itu dinamakan adventure . Begitu juga dengan istilah trip , banyak yang mengartikannya sebagai sebuah perjalanan jauh. Lalu bagaimana jika ‘perjalanan’ atau ‘adventure’ itu hanya berlokasi di sekitar kita, apa itu tidak bisa dikatakan perjalanan? Tentu saja bisa, karena perjalanan itu tidak pernah dibatasi seberapa jauh jarak yang kita tempuh, tetapi perjalanan itu manakala kita sudah tidak berada di lokasi awal kita berada. Beberapa tahun yang lalu saat saya masih berkuliah di Universitas ...

Apapun selalu membawa berkah, termasuk sakit

Sudah empat hari ini saya dirawat di rumah sakit Bunda Margonda, dengan diagnose typhus. Aaah rasanya.. Ini pertama kalinya saya dirawat dirumah sakit sepanjang hampir 25 tahun umur saya.. Ceritanya hari kamis lalu, saya memutuskan untuk istirahat total dikosan. Selain karena tanggal merah dan tidak mengantor. Sejak bangun tidur entah kenapa kepala saya seperti muter-muter, tenggorokan perih, badan ngilu-ngilu dan greges tidak karuan. Saya yakin saya kecapean dan butuh istirahat. Tidur seharian dan tidak ngapain-ngapain seharian hanya solat. Masak, dan makan biasanya akan mengembalikan kondisi saya. Hari kami situ saya hanya keluar sebentar untuk bertemu dengan mang Dudin dan Mama Opi (Om dan Tante saya). Sisanya saya total dikosan. Rencana untuk berkunjung ke Rumah anak murid di Kota Wisatapun saya batalkan dengan sopan. Ternyata, kondisi badan saya tidak berubah. Jumatnya, saya tetap kerja. Saya pikir istirahat total kemarin belum cukup mungkin. Jumatnya saya kerja dengan ko...